Monday, 29 January 2018

Perjalanan Sebuah Buku

Tulisan ini 100% mengandung curhat
Sebuah buku memiliki kisahnya masing-masing. Seperti buku saya yang satu ini, kisahnya cukup panjang dan lama. Saya sangat sabar menantikan kelahiran buku ini. Walau sebenarnya kesabaran saya sudah mulai rapuh.

Ide awal pembuatan buku ini adalah mengenalkan beberapa tari Nusantara kepada anak-anak sejak dini melalui aktivitas mewarnai. Anak-anak menyukai aktivitas mewarnai dan harapan anak-anak bisa memahami tari Nusantara, paling minimal anak-anak memahami.

Saya mengajukan buku ini ke penerbit dan diterima. Namun, kemudian Sang Editor meminta saya untuk melengkapi naskah itu menjadi 34 jenis tari Nusantara. Itu artinya saya harus menambah naskah itu sehingga buku ini berisi 34 tari dari 34 provinsi di Indonesia. Menurut saya ide Sang Editor sangat bagus sehingga akhirnya saya merevisi buku itu menjadi 34 tari Nusantara.
Revisi penambahan naskah berjalan lancar, demikian pula ilustrasinya. Dalam waktu dua bulan, naskah revisi sudah saya kirimkan pada editor. Kemudian saya menunggu...menunggu...menunggu...

Tiga tahun berlalu...

Saya tidak bisa lagi bersabar untuk menunggu dan menunggu. Saya menelepon redaksi penerbitnya menanyakan status naskah saya yang sudah tanda tangan SPP. Akhirnya ada sebuah kepastian, salah satu editornya menghubungi saya, itu pun bukan editor buku anak. Sampai sekarang saya tidak bisa berkomunikasi langsung dengan editornya. 

Singkat cerita Mbak Editor mengirim pdf naskah 34 Jenis Tari Nusantara, dengan keterangan meminta persetujuan penulis. Hati saya sedikit senang, karena bisa komunikasi dengan editor walau hanya via email.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ingin bisa komunikasi via whatsapp atau minimal via sms dengan editornya. Ah tapi rasanya ini hanya mimpi hahahahaha

Sejak pengiriman PDF naskah untuk minta ACC, saya masih menunggu lagi, kurang lebih 8 bulan. Nah minggu lalu, saya mendapat pesan whatsapp dari seorang marketing penerbit yang memasarkan buku saya. Marketing itu menanyakan apakah saya mau membeli buku 34 Jenis Tari Nusantara. Saya terkejut senang sekaligus penuh tanda tanya. Saya belum tahu kalau buku itu sudah terbit dan dicetak.
Ketika akhirnya buku itu terbit, saya mengucapkan terima kasih kepada penerbit dan redaksinya. Saya minta maaf juga jika selama proses, saya begitu cerewet tanya-tanya terus tentang buku ini.

Judul : Buku Aktivitas Anak Mengenal 34 Jenis Tari Nusantara
Penulis : Paskalina Askalin
Ilustrator : Redi
Penerbit : Rainbow Andi Publisher
Harga : Rp 79.000
Pemesanan : wa 085695394235 atau langsung ke Andi Publisher 

Monday, 22 January 2018

Bukan Sekadar Pesta Ulang Tahun

Saya bertanya pada diri saya sendiri, ketika anak usia tiga tahun merayakan ulang tahunnya, apakah ini kesenangan anaknya atau keinginan ibunya.


Melihatnya senang, bahagia, saya merasa tidak ada salahnya merayakan ulang tahun Kenan yang ke-3. Pesta ini bukan hanya keinginan saya sebagai ibunya, ini keinginan Kenan juga.

Apakah nanti di usianya ke-4 akan dirayakan juga. Pasti saya jawab TIDAK. Di usia nanti, dia akan lebih paham, bukan pesta yang terpenting, tetapi berbagi dan nilai-nilai luhur lainnya yang akan dia pahami sedikit demi sedikit.

Ada dua hal unik ketika pesta ulang tahun Kenan, kemarin. Pertama, Kenan tidak mau duduk di kursi di depan yang sudah disediakan untuknya. Ini adalah pestanya, jadi Kenan menjadi raja dalam pesta ulang tahunnya. Tetapi, Kenan memilih duduk di antara teman-temannya.

Bagi saya ini adalah sebuah nilai kebersamaan tanpa batas. Semua sama, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang direndahkan. Harapan saya, kelak Kenan akan memupuk nilai ini lebih tajam sehingga dia menjadi anak yanh sederhana, santun, dan tidak membeda-bedakan.
Kedua, ketika Kenan usai memotong kue ulang tahunnya suatu peristiwa terjadi. Semua bertanya pada Kenan mau diberikan pada siapa potongan kue pertamanya. Dengan yakin Kenan menjawab, "Untuk teman-teman."


Di kanan kirinya berbisik, "Kasih ke Bunda, kasih ke Ayah, Ken."  Kenan tak bergeming, dia berikan kue potongan pertama pada salah satu teman dan semua yang datang dapat potongan kue ulang tahunnya.

Dalam hati saya bangga, Kenan sudah belajar namanya berbagi. Kenan tidak berikan potongan kue pertama untuk orang terdekatnya. Kenan tahu, pesta ulang tahun ini untuknya, jadi saatnya bagi dia untuk berbagi dengan orang lain. Pesta ulang tahunnya bukan untuk kebahagiaannya dan keluarga, tetapi kebahagiaan bagi orang lain.

Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang takut akan Tuhan, sehingga selalu berjalan dan bertindak sesuai kehendakNya dan menjauhi laranganNya.
Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang berani melakukan hal yang benar tanpa takut oleh ancaman.
Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang santun dan sederhana, sehingga tidak me jadi sombong oleh harta dan dunia.
Kenanutama Sinduaji, jadilah yang terbaik..
Amin amin amin

Saturday, 13 January 2018

Bolehkah Anak Usia 3 Tahun Belajar Calistung?

Dulu, dulu sekali, saya belajar membaca, menulis, dan berhitung di kelas 1 SD. Nah sekarang, anak-anak belum masuk SD sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Bapak dan Ibu Guru yang mengajar kelas 1 SD tidak perlu bersusah payah mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Eit.. tunggu dulu, faktanya tidak semua anak masuk SD itu sudah bisa membaca dan menulis. Kenapa begitu ya, apakah di taman kanak-kanak tidak diajari membaca, menulis, dan berhitung?

Tentang membaca, menulis, dan berhitung yang diajarkan di taman kanak-kanak, ini masih menjadi sebuah perdebatan yang tidak kelihatan. Walaupun kadang-kadang muncul menjadi viral di media sosial, tetapi lalu lenyap ditelan bumi. (Baca tulisan saya ini)

Jadi sebenarnya, boleh tidak sih mengajarkan calistung (baca membaca, menulis, dan berhitung) pada anak usia dini, usia 3 tahun misalnya? Boleh-boleh saja (menurut saya). Sejak seorang anak lahir (bahkan ketika masih dalam kandungan) anak sudah bersinggungan dengan membaca, menulis, dan berhitung. Contoh yang saya alami seperti ini:

(1) Sejak masih dalam kandungan, saya membacakan buku cerita atau dongeng setiap hari. Calon bayi saya dalam kandungan sudah mendengarkan kata, kalimat, dan cerita dari ucapan saya. Itu artinya dia sudah bersinggungan dengan membaca.

(2) Ketika bayi sudah lahir, saya membacakan buku cerita lagi bahkan lebih banyak. Setiap kata dan kalimat yang saya ucapkan, menjadi sebuah memori bahasa yang tersimpan di otak anak yang nantinya menjadi kosa kata yang akan anak ucapkan ketika sudah bisa berbicara.

(3) Tanpa saya sadari, setiap kali saya bicara dengan anak saya, sering mengucapkan angka dan hitungan. Padahal saya tahu, kalau anak saya pasti tidak tahu angka saat itu.
Jadi, calistung tidak bisa dijauhkan dari proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemerintah telah mengatur regulasi yang ketat soal batasan-batasan pembelajaran calistung prasekolah dasar dan sekolah dasar. Bahkan, ada juga aturan yang mengatur, tidak boleh ada tes calistung sebagai syarat masuk SD. Namun, walaupun demikian kebanyakan orangtua pasti akan khawatir jika anaknya yang duduk di bangku taman kanak-kanak belum bisa calistung. Sehingga mereka berbondong-bondong mencari tempat les calistung untuk anak mereka.

Bagaimana dengan saya, anak saya usia 3 tahun, haruskah ikut les calistung?
Tentu saja tidak. Saya senang sekali jika anak saya bisa calistung di usianya yang ke-3. Itu keinginan saya, egoisme manusia saya, namun saya sadari, anak saya di masa emasnya, tidak boleh dipaksa melakukan hal yang bukan saatnya. Saya mengenalkan angka, huruf, dan berbagai kosa kata, tetapi bukan untuk dikuasainya, HANYA UNTUK DIKENALNYA. Setelah angka dan huruf dikenalnya dengan baik, dengan sendirinya dia akan memiliki keinginan untuk membaca, menulis, dan berhitung.

Jangan paksa anak belajar calistung. Sediakan saja di dekatnya buku-buku yang bisa mengenalkan anak pada calistung. - Paskalina Askalin -

Thursday, 11 January 2018

Kembali ke Masa Lalu: Teman-teman SMP

Siang ini saya dikejutkan dengan japri seorang teman di masa lalu. Tidak tanggung-tanggung, karena teman itu saya harus mengumpulkan ingatan demi ingatan 24 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bernama Bojonegoro. Dia seorang teman dari masa SMP. Jujur, saya lupa tentang dia, apa dia dulu sekelas dengan saya, atau satu angkatan. Saya benar-benar lupa.

Jadilah hari ini muncul sebuah WAG baru, teman-teman satu angkatan SMPN 2 Bojonegoro. Zaman memang telah berubah, teman dan sahabat yang lama sekali tidak bertemu akhirnya bisa bertegur sapa. Saya senang sekali akhirnya bisa bertegur sapa dengan salah satu sahabat saya waktu SMP, kami sekelas, sering pulang bareng, dan saya sering main ke rumahnya. Dia kini tinggal di Malang.

Ketika menemukan sahabat lama itu, rasanya seperti menemukan permata yang hilang, mengharukan. Jika bisa bertemu, mungkin akan sangat membahagiakan. Semoga saya bisa terhubung dengan sahabat saya lainnya, yang belum diketahui rimbanya.

SMPN 2 Bojonegoro, menjadi bagian dari hidup saya. Walau saya hanya singgah sebentar di kota kelahiran saya ini, ada banyak cerita dan rasa yang terpendam bersama dengan waktu. Setiap sudut jalan yang selalu saya lalui ketika pulang pergi sekolah, amat sangat saya ingat. Sepeda butut yang menemani saya sekolah pun, masih membekas dalam ingatan, karena sepeda itu sering blong remnya, sehingga ketika tiba di turunan (dekat SD Kepatihan) kaki saya harus cepat mengerem sebelum menabrak sepeda lain. Itu hanya sepenggal kisah, masih banyak kisah saya lainnya yang mengharukan hingga memalukan.

Mungkin akan bagus ya, jika cerita saya ketika SMP dibuat menjadi sebuah novel. Ah saya jadi bermimpi.. hahahahaha

- to be continue -

Wednesday, 10 January 2018

Viral, Tulisan Seorang Dokter yang Menyebut PAUD itu Bukan Pendidikan...


Saya tidak ingin membahas tentang tulisan dokter itu. Saya hanya ingin cerita tentang dilema yang saya alami. Dilema itu seakan muncul lagi karena tulisan dokter itu.

Saya pernah menulis ini di catatan saya sebelumnya:
Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari.
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum.
Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah. (Lengkapnya di sini)

Tentang sekolah Paud ini sebagai seorang ibu, saya sebenarnya agak galau, antara memasukkan Kenan ke Paud atau tidak. Kegalauan saya karena stereotipe masyarakat sekitar saya yang memandang sekolah Paud (baca kelompok bermain) sebagai sebuah keharusan bagi anak padahal kelompok bermain itu tidak wajib bagi anak. Setiap kali bertemu saudara atau teman yang lama tak bertemu, pertanyaannya adalah "Kenan sudah sekolah belum?"
Orang tak dikenal di puskesmas, di stasiun, atau tempat lain pun, selalu menanyakan hal yang sama pada Kenan. Apalagi ketika melihat Kenan menghitung benda atau bersenandung lagu ABC. Mereka mengira KARENA KENAN SUDAH SEKOLAH PAUD, Kenan jadi bisa menghitung dan mengenal huruf.

Saya sadar betul, kalau terlalu peduli dengan ocehan orang malah jadi ribet sendiri. Akhirnya saya (kami, saya dan suami) putuskan Kenan tidak masuk sekolah PAUD (baca kelompok bermain).  Jika saya ibu yang bekerja, mungkin keputusannya bisa lain. Saya sepanjang waktu di rumah, jadi saya bisa mengajak Kenan belajar dan bermain semaunya. Lagi pula saya punya banyak buku untuk menunjang proses belajar. Kenan pun bisa belajar sesuka hatinya, tanpa ada tekanan dari siapapun. Mau bermain terus seharian pun tidak jadi soal.

Jadi, tentang keputusan apa perlu memasukkan anak ke sekolah Paud, itu tergantung dari kebijaksanaan orangtua masing-masing anak. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda-beda, setiap anak pun mempunyai kebutuhan yang berbeda. Berikan yang terbaik untuk buah hati, bukan yang terbaik untuk orangtua.

Tulisan ini mengandung curhat ^_^

Tuesday, 9 January 2018

Kenapa Saya Menulis Buku ini?

Alasan pertama saya menulis buku ini adalah karena editor penerbit menyarankan membuat buku ini, jadi saya mencoba membuat proposal naskahnya, lalu di ACC, dan saya tulis. Sesederhana itulah alasannya.
Namun jika dirunut lebih ke dalam buku ini punya sesuatu yang lain bagi saya, penulisnya.

Buku ini kerja sama pertama saya dengan penerbit Elex Media Komputindo. Pertemuan saya dengan Editor Penerbit Elex tidak ujug-ujug. Bulan April 2017 saya mengikuti acara "Ngopi Seru" yang diselenggarakan Komunitas Penulis Bacaan Anak bersama Editor Elex Media. Acara berlangsung di Gedung Kompas Gramedia, Bandung. 

Sebelum acara berlangsung, saya dan penulis lainnya sudah mengajukan proposal naskah. Bagi proposal naskah yang sudah diterima bisa langsung memproses naskahnya dan bekerja sama dengan ilustrator. Nah, proposal naskah saya tidak diterima, jadi Editor memberikan usulan tema lain untuk saya tulis. Salah satu tema yang diajukan adalah buku aktivitas persiapan masuk SD.

Acara Ngopi Seru di Bandung

Ada beberapa tahap yang saya lalui hingga buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit. Berikut ini tahap-tahap proses pembuatan buku ini mulai dari proses menulis hingga terbit.

1. Membuat sampel naskah untuk diajukan ke Editor Penerbit Elex Media.
2. Setelah mendapat persetujuan dari Editor, saya mulai menulis naskah hingga selesai.
3. Keseluruhan naskah yang sudah selesai, saya kirimkan ke Editor.
4. Editor sudah menyetujui naskah, selanjutnya mencari ilustrator.
5. Meminta sampel gambar dari beberapa ilustrator.
6. Editor menyetujui salah satu sampel gambar, selanjutnya editor berkomunikasi langsung dengan ilustrator.
7. Proses pembuatan gambar membutuhkan waktu cukup lama. Setelah gambar selesai, saya memeriksa kelengkapan gambar dan kesesuaian gambar dengan naskah.
8. Naskah dan gambar diserahkan pada Editor untuk diedit, dilayout, hingga akhirnya menjadi dummy.
9. Editor mengirimkan file dummy untuk saya periksa. Kemudian masukan dan catatan koreksi saya serahkan ke Editor.
10. Proses selesai, selanjutnya menunggu proses terbit. Puji Tuhan, buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit 30 Oktober 2017, sehari menjelang ulang tahun saya.

Harapan saya di tahun 2018 ini buku saya yang lain bisa terbit lagi bersama Penerbit Elex Media Komputindo

Monday, 8 January 2018

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

Pengalaman saya sebagai seorang ibu….
Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.

Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.

Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.

Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya membantu proses belajar anak untuk menjadi bisa.

Sering sekali saya melihat, orangtua atau pengasuh anak yang membawakan tas anak ketika pergi dan pulang sekolah. Menurut saya hal ini memutus proses kemandirian anak. Anak menjadi manja, tidak mau dan tidak peduli pada tasnya sendiri. Lama kelamaan hal ini akan terbawa terus hingga remaja.

Berikut ini beberapa kebiasaan orangtua atau orang dewasa atau pengasuh anak, yang membuat anak tidak mandiri:
- Menyuapi makan
- Memakaikan sandal/sepatu
- Membawakan tas saat pulang dan pergi sekolah
- Mengambilkan barang
- Melarang anak membantu
- Membereskan mainan anak

Enam hal di atas sering dilakukan orangtua pada anaknya atau orangtua menyuruh pengasuh anak melakukan hal itu demi anaknya. Saya sebagai orangtua kadang juga terlena untuk memudahkan segala hal demi anak. Tetapi yang saya lakukan justru membuat anak manja, tidak mandiri.
Saya ingin menanamkan kemandirian sejak dini pada anak saya. Saya memulainya dengan makan sendiri tanpa disuapi. Saya memintanya mengambil barang yang diinginkan sendiri. Saya memintanya membantu membereskan mainannya. Saya melibatkan anak saya dalam berbagai aktivitas yang saya lakukan. Hasilnya… kini anak saya bisa makan sendiri, bisa memakai sandal sendiri tanpa pernah terbalik kanan di kiri atau kiri di kanan, anak saya bisa mengambil minum sendiri, dan masih banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan sendiri olehnya.
Untuk sampai pada kemandiriannya, saat ini sebagai seorang Ibu saya harus sabar menghadapi kerepotan atau berantakan karena ulahnya. Saya nikmati itu dengan bahagia.

Tulisan dari blog sebelah, www.paskalina.wordpress.com

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...