Showing posts with label membaca buku. Show all posts
Showing posts with label membaca buku. Show all posts

Wednesday, 21 November 2018

Mengenal Lebih Dekat Rumah Baca Anak Nagari Asuhan Bunda Sry


Semangat literasi baca-tulis hanya menjadi ucapan semangat belaka jika tak direalisasikan dengan segera. Anak-anak memiliki keinginan besar untuk mendapatkan cerita-cerita berkualitas dari buku yang dibacanya atau dibacakan oleh orang-orang di sekitarnya. Semangat membaca harus dipraktikkan langsung bersama anak-anak.

Rumah baca adalah tempat yang paling dekat dengan dunia literasi. Di dalam rumah baca anak-anak bisa membaca buku, dibacakan buku, dan mendapatkan pendampingan tentang pentingnya membiasakan membaca buku.

Thursday, 27 September 2018

Tip: Buku Terbaik untuk Anak

Sebuah pertanyaan menggelitik hati dan pikiran saya pagi ini. "Buku apa yang bisa direkomendasikan untuk anak usia 5 tahun?" 

Jawaban saya simpel saja, pilih tema buku anak sesuai dengan kesukaan anak. Jika anak laki-laki, biasanya cenderung menyukai mobil-mobilan atau superhero, sediakan buku-buku tema itu. Jika anak perempuan biasanya cenderung suka mainan boneka barbie, sediakan buku-buku dengan tema itu. Baik lagi jika orang tua bisa menanyakan pada anak buku apa yang diinginkan.




Namun ada yang orang tua harus ketahui, bukan buku bagus atau buku mahal atau buku best seller yang dibutuhkan anak kita. Yang dibutuhkan dan didambakan anak kita adalah membaca buku bersama orang tuanya, ayahnya atau ibunya. Bagi ayah dan ibu yang bekerja, membacakan buku akan menjadi saat-saat yang luar biasa untuk anak. Tentunya secara emosional hal ini akan menambah kedekatan antara anak dan orang tua.

Mungkin ada orang tua yang berargumen, "Duh di rumah tidak punya buku cerita. Mau membacakan apa?" Itu bukan alasan. Orang tua bisa membacakan buku menggunakan buku pelajarannya bagi anak usia SD. Bagi anak batita/balita, buku aktivitas di PAUD/TK bisa menjadi sumber bacaan atau gambar juga bisa menjadi bahan cerita.

Jika orangtua masih kesulitan mendapatkan buku untuk dibacakan bersama anak, ada satu cara mudah dan gratis. Tetapi cara ini benar-benar jalan terakhir. Caranya adalah install aplikasi perpustakaan nasional digital Ipusnas di telepon pintar Anda dan cari buku cerita dan bacakan untuk anak Anda. (Aktivitas bersama anak, terutama usia batita balita, hindari penggunaan smartphone atau tablet).


Jadi kesimpulannya, tidak perlu beli buku mahal, tidak perlu bingung memilih buku, sisihkan waktu setiap hari untuk membaca buku bersama anak. Itu lebih bermakna dan bermanfaat. Buku itu akan menjadi buku terbaik untuk anak. Hari berikutnya dan berikutnya, Anak pasti minta dibacakan buku itu lagi.

Paskalina Askalin
Seorang Ibu, seorang penulis, dan editor.

Thursday, 10 May 2018

Ayo SEMPATKAN WAKTU Bacakan Buku untuk Anak


Akhir-akhir ini saya sering menggunakan hastag gernasbaku. #gernasbaku adalah hastag dari gerakan nasional orang tua membaca buku. Terus terang saya belum pernah tahu tentang gerakan ini. Secara tidak sengaja saya menemukan hastag itu di Instagram. Lalu saya gunakan hastag itu setiap kali menggunggah foto kegiatan baca buku.


Tanpa menemukan #gernasbaku, setiap hari saya sempatkan  untuk membacakan buku untuk anak saya. Bagi saya, membacakan buku itu bermanfaat, apalagi jika membaca buku ini menjadi kebiasaan setiap hari.

Membacakan buku untuk anak itu sebuah kegiatan positif yang mempunyai banyak manfaat. Membacakan buku bisa dilakukan sejak anak dalam kandungan. Anak saya kini berusia 3,5 tahun. Dia belum bisa membaca, bagi saya itu bukan masalah. Buku tetap bisa dinikmati oleh anak saya dengan cara dibacakan. Walaupun belum bisa membacakan buku, anak saya bisa membaca gambar dan menceritakan isi buku berdasarkan gambar yang dilihatnya.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah bagaimana menumbuhkan minat ingin dibacakan buku atau membaca buku sendiri. Berdasarkan pengalaman saya dengan anak saya, menumbuhkan minat membacakan buku bukan menjadikan anak kutu buku, tetapi mau membaca buku kapan pun di mana pun, berapa lama pun.

Tip meningkatkan minat baca buku dan minat ingin dibacakan buku sesuai pengalaman saya, yaitu:




(1) Orang dewasa memberikan contoh
Anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Jika ingin meningkatkan minat baca anak, orang tua atau siapa pun anggota keluarga di rumah memberikan contoh membaca buku. Anak-anak, apalagi usia 3,5 tahun seperti anak saya, kadang masih sering "mengganggu"  ketika ada yang membaca buku, misalnya buku yang sedang dibaca direbut dan dijadikan mainan.



Memberikan contoh pada anak untuk membaca buku
dan membacakan buku untuk anak.


(2) Ada buku di mana-mana

Ingin meningkatkan minat baca, tentu harus menyediakan bukunya. Buku yang ditujukan untuk anak sebaiknya ditaruh di berbagai tempat. Hal ini untuk memancing rasa ingin tahu anak terhadap buku. Buku bisa ditaruh di rak mainan, di kasur, di meja, dan sebagainya. Kemarin, anak saya sedang bermain dengan mobil-mobilan, tiba-tiba tertarik menarik sebuah buku dari rak, ternyata itu adalah buku kesukaannya berisi tentang mobil-mobil raksasa. Rak buku dan rak mainan saya jadikan satu, jadi kapan pun anak saya akan bersentuhan dengan buku.



Anak saya sedang melihat lagi buku favoritnya. 

(3) Paling tidak membelikan 1 buku setiap bulan
Toko buku sebaiknya menjadi tempat berkunjung setiap bulan bagi keluarga. Dengan demikian, setiap bulan anak mempunyai koleksi buku baru. Kalau pun anak tidak ikut pergi ke toko buku, orang tua bisa menjadikan buku baru sebagai hadiah. Saya biasanya membeli buku tanpa mengajak anak saya. Mengapa? Di usianya saat ini anak saya suka sekali bermain mandi bola dan segala permainan yang ada di arena. Masalah utamanya, arena bermain itu berada tepat di samping toko buku yang sering saya kunjungi.
Bulan lalu saya membelikan anak saya dua buku ini.

Buku baru yang saya beli untuk anak saya,
bulan April 2018.


Bulan Mei ini saya belikan buku juga tetapi masih menunggu dikirim oleh penerbitnya.


Dengan selalu ada buku baru setiap bulan, diharapkan minat baca anak terus ada dan selalu meminta dibacakan buku. Dibelikan buku yang baru akan membuat anak memiliki rasa memiliki kepada buku yang dibelikan untuknya.

(4) Membacakan buku kapan pun
Kegiatan baca buku atau membacakan buku harus menjadi kebiasaan keluarga. Dengan begitu karena setiap hari dilakukan, anak menjadi senang dan tertarik untuk membaca buku atau dibacakan buku.
Tidak ada keharusan tentang kapan waktu yang tepat untuk membacakan. Waktu yang tepat untuk membacakan buku adalah ketika anak tidak melakukan aktivitas apapun. Nah, biasanya saya membacakan buku ketika anak saya mau tidur. Saya biasanya memintanya memilih buku yang mau dibacakan.
Pemilihan waktu yang tepat akan meningkatkan minat anak pada membaca buku atau dibacakan buku.

Foto atas: anak saya mendengarkan buku yang saya bacakan.
Foto bawah: anak saya sedang melihat buku favoritnya.


Empat hal di atas adalah cara saya untuk menarik minat anak saya terhadap membaca. Cara-cara ini berhasil membuat anak saya lupa pada gawai. Ketika usianya 2,5 tahun, saya khawatir dengan kebiasannya melihat video di gawai. Isi videonya tidak jadi masalah, tetapi lamanya waktu menonton video sebelum tidur, itu yang jadi persoalan. Kita semua tahu, jika radiasi gawai dan alat elekronik lain sebaiknya dijauhkan dari anak-anak.
Puji Tuhan, saat ini anak saya tidak lagi kecanduan nonton video di gawai. Dibacakan buku menjadi kegiatan menarik baginya, apalagi yang dibacakan buku favoritnya.

Thursday, 5 April 2018

Resensi Buku: Fakta tentang Membacakan Buku

Membacakan buku cerita sebelum tidur adalah kebiasaan yang sering dilakukan orangtua untuk anaknya. Kegiatan membacakan buku ini berpengaruh postif pada perkembangan kecerdasannya. Terjalin kedekatan yang baik antara anak dan orangtua, selain itu anak juga  mendapatkan banyak informasi dan imajinasinya terasah.

Jim Trelease dalam bukunya The Read–Aload Handbook menyebutkan fakta-fakta menarik tentang manfaat membaca buku bagi perkembangan kecerdasan anak. Pengalaman Jim selama lebih dari 30 tahun yang diungkapkan dalam buku ini bukan omong kosong belaka, tetapi pengalaman pribadinya dan didukung penelitian berbagai ahli.

Jim Trelease adalah seorang ayah yang mempunyai dua orang anak dan bekerja. Jim membacakan buku untuk kedua putranya setiap malam, tanpa tahu pasti apa manfaatnya. “Setiap malam saya membacakan buku untuk putra dan putri saya, tidak tahu akan bermanfaat kognitif maupun emosional dari hal itu. Saya tidak tahu kalau hal ini akan memengaruhi kosakata mereka, rentang perhatian mereka ataupun minat mereka pada buku. Saya membaca karena satu alasan: karena ayah saya membacakan saya buku dan hal itu membuat saya merasa senang, perasaan yang tidak bisa saya lupakan. Saya ingin anak-anak saya juga merasakan hal yang sama (hlm. 20)”

Apa yang dilakukan Jim Trelease dulu, masih banyak dilakukan orangtua pada masa kini. Namun, orang tua masa kini perlu bersyukur karena Jim telah membagikan pengalaman dan penelitiannya dalam buku ini. Buku ini memang tidak ditulis oleh seorang profesor tetapi bisa memberikan banyak sekali informasi untuk orangtua, calon orangtua, dan guru.

Membacakan buku untuk anak bisa dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan. Ini bukan mitos. Jim mengutip pernyataan seorang ahli. Psikolog dari University of North Carolina, Anthony DeCasper dan koleganya mengeksplorasi berbagai efek membacakan buku kepada anak in utero (ketika masih di dalam kandungan), mengira kalau jabang bayi mungkin mampu mengenali sesuatu  yang telah mereka dengar ketika masih berada di dalam kandungan (hlm. 68). Hasil penelitian Anthony terbukti, setelah ia meminta 33 wanita hamil membacakan satu paragraf tertentu dari satu cerita anak-anak, anak in utero mampu mengenali bacaan yang diucapkan oleh ibunya.

Fakta lain yang ditunjukkan Jim dalam buku ini adalah bahwa membacakan buku pada anak berkebutuhan khusus memberikan dampak yang positif. Jim memberikan contoh kasus anak berkebutuhan khusus bernama Cushla. Sejak usia 4 bulan orangtuanya membacakan buku cerita untuk Cushla. Sampai dia berusia 3 tahun, para dokter mendiagnosis Cushla sebagai anak yang “terbelakang secara mental dan fisik” dan merekomendasikan dia mendapatkan perlakuan khusus. Orangtuanya, setelah melihat tanggapannya terhadap buku, menolak; sebagai gantinya, mereka membacakan empat belas buku sehari. Di usia 5 tahun, Cushla, menurut para psikolog, sudah memiliki intelektual yang jauh di atas rata-rata dan mampu bersosialisasi dengan baik (hlm 70).

Masih banyak fakta lain yang diungkapkan Jim Trelease tentang keajaiban membacakan buku untuk anak. Selain dilakukan oleh orangtua, membacakan buku juga bisa dilakukan oleh seorang guru untuk murid-murid di kelasnya. Jim Trelease menggarisbawahi bahwa buku  ini bukan tentang membesarkan anak yang cepat dewasa. Buku ini tentang membesarkan anak-anak dengan rasa cinta kepada bacaan, tentang anak-anak yang mau terus membaca jauh setelah mereka lulus sekolah.

Buku ini mampu mengubah konsep pendidikan di Amerika dan Eropa. Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita ciptakan agen-agen pembaca buku terbaik yang bisa menguasai dunia karena kecerdasan otak yang cemerlang.



IDENTITAS BUKU
Judul : The Read–Aload Handbook, Membacakan Buku dengan Nyaring, Melejitkan Kecerdasan Anak | Penulis Jim Trelease | Penerbit Noura Books | Cetakan  : Juli 2017 | Tebal 359 halaman | ISBN  978-902-385-276-5

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...