Showing posts with label resensi paskalina. Show all posts
Showing posts with label resensi paskalina. Show all posts

Friday, 19 October 2018

Resensi Buku: Modo Tak Mau Menari

Judul: Modo Tak Mau Menari
Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: KPK RI
Tahun: 2016

Buku Modo Tak Mau Menari adalah satu dari sekian banyak buku seri Si Kumbi yang diterbitkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.

Sebagai seorang penulis yang ketika itu mengikuti workshop menulis buku anak antikorupsi sungguh sangat beruntung bisa mendapatkan beberapa buku seri Si Kumbi, salah satunya buku Modo Tak Mau Menari.

Modo Tak Mau Menari berkisah tentang perjalanan Kumbi ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Di NTT Kumbi melihat teman-temannya menari dengan alat bambu dan diiringi musik.

Kumbi mencoba tarian itu dengan penuh semangat, hingga berkeringat.  Nama tariannya Rangkuk Alu.

Ketika Kumbi selesai menari, Kumbi melihat seseorang duduk di bawah pohon. Ternyata itu adalah Modo. Ketika ditanya oleh Kumbi, Modo mengaku sakit gigi sehingga tidak ikut bermain Rangkuk Alu.
Kumbi menceritakan pada teman-temannya jika Modo sakit gigi. Teman-teman Kumbi dan Modo lalu menawarkan obat yang mujarab untuk sakit gigi. Semua mengatakan obatnya paling mujarab, sehingga membuat Modo berteriak sehingga semua teman-temannya diam.

Modo lalu mengaku jika sebenarnya dia tidak sakit gigi. Modo mengaku sakit gigi supaya tidak perlu bermain Rangkuk Alu. Modo takut teman-teman meninggalkannya karena dia tidak bisa bermain Rangkuk Alu.

Ketidakjujuran yang dilakukan Modo banyak dilakukan oleh anak-anak kita. Karena takut pada sesuatu hal, menyebabkannya berkata tidak jujur. Padahal sebenarnya jika berkata jujur, ketakutan itu tidak terbukti. Seperti halnya teman-teman Modo dan Kumbi. Meskipun Modo tidak bisa bermain Rangkuk Alu, teman-teman Modo tetap mau bermain dengan Modo.

Buku cerita bergambar ini sangat pas dibacakan atau didongengkan untuk anak usia dini. Dengan cerita sederhana dan tampilan gambar yang berwarna cerah, anak-anak akan tertarik untuk dibacakan buku ini.

Tuesday, 16 October 2018

Resensi buku: Pesawat Kertas dan Cerita Minimalis Lainnya

Judul: Pesawat Kertas dan Cerita Minimalis Lainnya
Penulis: Noor H. Dee
Penerbit: Minima Press
Tahun: 2017
Ukuran buku: 11 x 16 cm
Tebal: 72 halaman

Buku yang mungil dan unik karya Noor H. Dee ini memuat cerita-cerita yang padat. Sang penulis menyebutnya cerita-cerita dalam buku ini cerita minimalis.

Dalam introduksi penulis mengatakan jika cerita minimalis bukan soal meminimalisir jumlah kata dan kalimat, melainkan juga meminimalisir peran narator dalam cerita. Itukah sebabnya, dalam cerita minimalis, sang narator dilarang banyak berkomentar. Dia hanya bertugas memberi tahu pembaca tentang apa yang sedang dilakukan dan diucapkan sang cerita. Tentang apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan sang tokoh cerita, sang narator tidak usah ikut campur. Biar pembaca saja yang menerka-nerka, kira-kira apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan sang tokoh cerita.

Untuk memperjelas uraian di atas, dikutipkan salah satu cerita minimalis dalam buku ini.

=====

PESAWAT KERTAS

Lelaki itu membuat pesawat kertas untuk anaknya.
Apakah pesawat itu bisa terbang? tanya anaknya.
Tentu saja bisa, jawab lelaki itu sambil melipat-lipat kertas di tangannya.
Aku ingin pesawat, ujar anaknya. Aku ingin main pesawat.
Iya sebentar lagi jadi, kok, ujar lelaki itu sambil tersenyum.
Aku ingin main pesawat, ujar anaknya lagi.
Lelaki itu buru-buru menyelesaikan pesawat kertasnya.
Nah, sudah jadi, ujar lelaki itu. Ayo, sekarang kita keluar rumah.
Lelaki itu dan anaknya keluar rumah bersama-sama.
Sesampainya di halaman rumah, lelaki itu melempar pesawat kertasnya ke udara.
Pesawat kertas itu meluncur, terbang sebentar untuk kemudian jatuh ke rumput.
Anaknya melompat-lompat dan berteriak-teriak. Hore! Pesawatnya terbang! Pesawatnya terbang! Setelah itu, dia mengambil pesawat kertas itu dan melemparnya ke udara.
Lelaki itu tersenyum, masuk ke rumah, membiarkan anaknya bermain sendirian.
Ketika berada di dalam rumah, lelaku itu melihat ayahnya duduk di sofa ruang tamu, membuat sesuatu.
Ayah membuat apa? tanya lelaki itu.
Membuat pesawat, ujar ayahnya.
Apakah pesawat itu bisa terbang?
Tentu saja bisa, jawab ayahnya sambil melipat-lipat kertas.

=====

Dalam buku ini terdapat 13 cerita minimalis. Cerita "Pesawat Kertas" ini cerita pertama dalam buku ini. Cerita minimalis ini ditulis tanpa menggunakan tanda baca. Inilah namanya kebebasan berekspresi dalam sastra. Tidak ada yang salah dalam sebuah karya sastra, walaupun ada kaidah yang dilanggar.

Bagi saya cerita minimalis ini menarik untuk dibaca. Namun, sebagai pembaca tak perlu mengerutkan dahi untuk mencari makna setiap isi cerita. Pemahaman apapun yang Anda peroleh sebagai pembaca, itulah maknanya. Pembaca bebas menginterpretasikan makna ceritanya. Seperti testimoni yang diungkap oleh A. Fuadi, penulis Anak Rantau dan Negeri 5 Menara, untuk buku ini. "Ini kumcer hemat kata tapi banjir makna. Di dalamnya tersedia aneka rasa yang misterius, kadang membuai, kadang bersiul, kadang menampar, kadang menikam. Tapi akhirnya bikin kecanduan. Karya pendek-pendek ini, bisa membuat kita termenung-menung panjang. Karya yang patut dibanggakan."

Cerita minimalis tidak boros kata-kata, tetapi berat maknanya.
-Paskalina Askalin-

Thursday, 5 April 2018

Resensi Buku: Fakta tentang Membacakan Buku

Membacakan buku cerita sebelum tidur adalah kebiasaan yang sering dilakukan orangtua untuk anaknya. Kegiatan membacakan buku ini berpengaruh postif pada perkembangan kecerdasannya. Terjalin kedekatan yang baik antara anak dan orangtua, selain itu anak juga  mendapatkan banyak informasi dan imajinasinya terasah.

Jim Trelease dalam bukunya The Read–Aload Handbook menyebutkan fakta-fakta menarik tentang manfaat membaca buku bagi perkembangan kecerdasan anak. Pengalaman Jim selama lebih dari 30 tahun yang diungkapkan dalam buku ini bukan omong kosong belaka, tetapi pengalaman pribadinya dan didukung penelitian berbagai ahli.

Jim Trelease adalah seorang ayah yang mempunyai dua orang anak dan bekerja. Jim membacakan buku untuk kedua putranya setiap malam, tanpa tahu pasti apa manfaatnya. “Setiap malam saya membacakan buku untuk putra dan putri saya, tidak tahu akan bermanfaat kognitif maupun emosional dari hal itu. Saya tidak tahu kalau hal ini akan memengaruhi kosakata mereka, rentang perhatian mereka ataupun minat mereka pada buku. Saya membaca karena satu alasan: karena ayah saya membacakan saya buku dan hal itu membuat saya merasa senang, perasaan yang tidak bisa saya lupakan. Saya ingin anak-anak saya juga merasakan hal yang sama (hlm. 20)”

Apa yang dilakukan Jim Trelease dulu, masih banyak dilakukan orangtua pada masa kini. Namun, orang tua masa kini perlu bersyukur karena Jim telah membagikan pengalaman dan penelitiannya dalam buku ini. Buku ini memang tidak ditulis oleh seorang profesor tetapi bisa memberikan banyak sekali informasi untuk orangtua, calon orangtua, dan guru.

Membacakan buku untuk anak bisa dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan. Ini bukan mitos. Jim mengutip pernyataan seorang ahli. Psikolog dari University of North Carolina, Anthony DeCasper dan koleganya mengeksplorasi berbagai efek membacakan buku kepada anak in utero (ketika masih di dalam kandungan), mengira kalau jabang bayi mungkin mampu mengenali sesuatu  yang telah mereka dengar ketika masih berada di dalam kandungan (hlm. 68). Hasil penelitian Anthony terbukti, setelah ia meminta 33 wanita hamil membacakan satu paragraf tertentu dari satu cerita anak-anak, anak in utero mampu mengenali bacaan yang diucapkan oleh ibunya.

Fakta lain yang ditunjukkan Jim dalam buku ini adalah bahwa membacakan buku pada anak berkebutuhan khusus memberikan dampak yang positif. Jim memberikan contoh kasus anak berkebutuhan khusus bernama Cushla. Sejak usia 4 bulan orangtuanya membacakan buku cerita untuk Cushla. Sampai dia berusia 3 tahun, para dokter mendiagnosis Cushla sebagai anak yang “terbelakang secara mental dan fisik” dan merekomendasikan dia mendapatkan perlakuan khusus. Orangtuanya, setelah melihat tanggapannya terhadap buku, menolak; sebagai gantinya, mereka membacakan empat belas buku sehari. Di usia 5 tahun, Cushla, menurut para psikolog, sudah memiliki intelektual yang jauh di atas rata-rata dan mampu bersosialisasi dengan baik (hlm 70).

Masih banyak fakta lain yang diungkapkan Jim Trelease tentang keajaiban membacakan buku untuk anak. Selain dilakukan oleh orangtua, membacakan buku juga bisa dilakukan oleh seorang guru untuk murid-murid di kelasnya. Jim Trelease menggarisbawahi bahwa buku  ini bukan tentang membesarkan anak yang cepat dewasa. Buku ini tentang membesarkan anak-anak dengan rasa cinta kepada bacaan, tentang anak-anak yang mau terus membaca jauh setelah mereka lulus sekolah.

Buku ini mampu mengubah konsep pendidikan di Amerika dan Eropa. Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita ciptakan agen-agen pembaca buku terbaik yang bisa menguasai dunia karena kecerdasan otak yang cemerlang.



IDENTITAS BUKU
Judul : The Read–Aload Handbook, Membacakan Buku dengan Nyaring, Melejitkan Kecerdasan Anak | Penulis Jim Trelease | Penerbit Noura Books | Cetakan  : Juli 2017 | Tebal 359 halaman | ISBN  978-902-385-276-5

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...