Showing posts with label cerita bunda. Show all posts
Showing posts with label cerita bunda. Show all posts

Saturday, 20 August 2022

Cerita Bunda: Ritme Tidur Anak Batita, Bunda yang Mengatur

Setiap keluarga dalam hal ini orangtua mempunyai cara masing-masing untuk mendidik anak-anak mereka. Misalnya saja dalam hal tidur. Ada orangtua yang membebaskan jam tidur anaknya. Mereka tidak mengatur jam berapa anaknya tidur siang, jam berapa anaknya tidur malam. Semua menyesuaikan keadaan. Ada juga orangtua sudah mempunyai aturan pasti dan harus dipatuhi anak. Misalnya harus tidur siang jam 1 siang, tidur malam jam 8 malam.
Kita tidak bisa berkata, orang tua ini benar caranya atau orangtua yang satunya ini tidak benar. 

SETIAP ORANG TUA PUNYA CARANYA MASING-MASING UNTUK MENDIDIK ANAKNYA DALAM HAL PEMBIASAAN

Sebagai orang tua dari 2 anak lanang yang berusia 7 tahun dan 2,5 tahun, ritme tidur atau waktu tidur itu harus diatur. Terutama, anak saya yang berusia 2,5 tahun. Anak usia di bawah tiga tahun sudah pasti tidak bisa mengatur waktu tidurnya. 
Anak-anak bisa melakukan aktivitas bermain hingga berjam-jam sehingga melupakan rasa kantuknya.  
Orangtua lah yang membantu anak mengatur jam tidur sehingga akan sebuah ritme yang teratur setiap hari. 
Siang ini anak saya yang berusia 2,5 tahun, tidur siang pukul 11.00 WIB. Biasanya dia akan tidur hingga 2 jam. 
Saat jam 11.00 WIB dia sudah tampak mengantuk dan cenderung marah-marah. Saya menandai itu sebagai waktu tidurnya. Dan, tidurlah dia. 
Saat dia tertidur, saya bisa melakukan aktivitas domestik di rumah dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Oleh karena itu, penting  bagi saya mengatur ritme tidur anak saya. Tidak perlu membuat aturan yang 'saklek' tidak bisa diubah, karena setiap hari tidak selalu sama. Hari ini tidur siang pukul 11.00, besok mungkin tidur siang pukul 13.00. Yang penting tetap dalam kendali.
Jika Bunda dan Ayah mau informasi lebih rinci tentang kebutuhan tidur, berikut ini saya saya kutipkan informasi dari P2PTM Kemenkes RI. 

KEBUTUHAN TIDUR SESUAI USIA

Usia 0-1 Bulan
Bayi yang usianya baru mencapai 2 bulan, umumnya membutuhkan tidur 14-18 jam setiap hari.

Usia 1- 18 Bulan
Pada usia ini, bayi membutuhkan waktu tidur 12-14 jam setiap hari termasuk tidur siang. Tidur cukup akan membuat tubuh dan otak bayi berkembang baik dan normal.

Usia 3-6 Tahun
Kebutuhan tidur yang sehat di usia anak menjelang masuk sekolah ini, mereka membutuhkan waktu untuk istirahat tidur 11-13 jam, termasuk tidur siang. Menurut penelitian, anak usia di bawah enam tahun yang kurang tidur, akan cenderung obesitas di kemudian hari.

Usia 6-12 tahun
Anak usia ini membutuhkan waktu tidur 10 jam. Menurut penelitian, anak yang tidak memiliki waktu istirahat yang cukup, dapat menyebabkan mereka menjadi hiperaktif, tidak konsentrasi belajar, dan memiliki masalah pada perilaku di sekolah 

Usia 12-18 tahun
Menjelang remaja, kebutuhan tidur yang sehat adalah 8-9 jam. Studi menunjukkan bahwa remaja yang kurang tidur, lebih rentan terkena depresi, tidak fokus dan punya nilai sekolah yang buruk 

Usia 18-40 tahun 
Orang Dewasa membutuhkan waktu tidur 7 - 8 jam setiap hari. Para dokter menyarankan bagi mereka yang ingin hidup sehat untuk menerapkan aturan ini pada kehidupannya. 

Lansia
Kebutuhan tidur terus menurun, cukup 7 jam per hari. Demikian juga jika telah mencapai lansia yaitu 60 tahun ke atas, kebutuhan tidur cukup 6 jam per hari
 
Sumber tulisan: 
(1) Pengalaman pribadi
(2) http://p2ptm.kemkes.go.id/


#ibudirumah #ibubelajar #waktutidur #ritmetidur

Saturday, 31 July 2021

Masak Semur Tahu Terung ala Bunda Dua Bola

Semur.. siapa yang tak pernah mencobanya. Sebenarnya semur favorit saya adalah semur jengkol🤭, tapi yang paling sering dimasak adalah semur tahu, semur terung, dan semur ayam. Kapan-kapan mungkin saya bagikan juga cara saya memasak semur jengkol.

Kemarin tuh saya sempat mencoba masak semur dengan bumbu instan. Hmmm lumayan enak sih, tapi terlalu asin buat saya yang cenderung suka yang manis-manis. Sudahlah, lebih enak dan lebih baik serta lebih sehat memasak semur dengan bumbu asli.
Ini bukti saya memasak dengan bumbu instan.


Hari ini masak apa? Ada tahu, ada tempe, ada ayam, ada terung... Cring cring cring akhirnya terpikir memasak semur tahu dan terung.  Langsung deh saya cari-cari resep semur di internet. Meskipun sudah berulang kali masak semur, selalu saya cek lagi bumbu semur itu apa aja. Tapi, biasanya setelah memilih salah satu resep, saya akan tambah bumbu lain  sesuai hati saya.

Seperti yang saya katakan di atas, akhirnya saya memilih membuat semur tahu dan terung. Kenapa tidak pilih ayam? Saya sudah punya rencana memasak soto ayam besok😀

Bahannya: 
- tahu 
- terung

Bumbunya:
-bawang merah
- bawang putih
- pala
- kemiri goreng
- tomat
- kecap
- daun salam
- sereh
- bawang daun/daun bawang
- gula merah
- garam

Seharusnya pakai merica atau cabai merah, karena ada lansia yang tidak bisa makan pedas merica atau cabai tidak saya gunakan. Semur yang saya masak juga tidak pakai penyedap rasa.

Mulai memasak, pertama-tama goreng tahu dan terung. Kemudian, haluskan bawang merah, bawang putih, pala, kemiri, dan tomat. Tangan saya tidak bisa mengulek dengan sempurna, urusan menghaluskan bumbu saya serahkan pada blender🤭.
Selanjutnya, tumis bumbu halus, masukkan juga daun salam, sereh yang sudah dimemarkan, kecap, gula merah, dan garam. Setelah aromanya keluar, tambahkan air secukupnya (sesuai selera), lalu masukkan tahu dan terung yang sudah digoreng. Masak hingga bumbu meresap. Lalu taburkan irisan bawang daun dan aduk merata. Kemudian diicip-icip, dan semur tahu terung siap dihidangkan bersama taburan bawang goreng.

Sayangnya, resep saya ini masih menggunakan ukuran hati dan perasaan. Bisa dikatakan memasak dengan hati aja. Takaran bumbu yang digunakan sesuai takaran hati dan perasaan. Resep semur ini tidak mengikuti panduan resep di internet. Saya menjadikan informasi dari internet sebagai pertimbangan, pada akhirnya saya tambah atau kurangi bumbunya sesuai kebutuhan saya.
Bagaimana dengan Anda, para ibu di rumah, suka memasak dengan hati atau ikuti arahan resep? Apapun pilihan ibu di rumah, pastikan semua anggota keluarga bisa menikmati apa yang dihidangkan. Percuma kan kalau ibu sudah memasak, pak pik pek di dapur, hasilnya tidak dimakan.
Ayo, masak-masak dengan hati bahagia hingga rasanya menjadi luar biasa!

#bundaduabola #masak-masak #ibudirumah #dirumahsaja



Friday, 30 July 2021

Masak Lodeh Praktis ala Bunda Dua Bola

PPKM level 4 apa kabar? Bagi saya pribadi tidak berpengaruh banyak. Sebelum pandemi terjadi saya di rumah saja, setelah pandemi terjadi saya di rumah saja, setelah PPKM level 4 pun saya di rumah saja😀
Semoga pandemi segera berlalu dan kehidupan normal lama kembali terjadi. Amin Amin Amin🙏

Aktivitas yang selalu terjadi di rumah setiap hari dan tidak pernah berhenti adalah memasak. Sekalipun pada saat-saat tertentu membeli makan via online, urusan memasak tetap dilakukan.
Setiap pagi hingga jam 12 siang, saya berkutat di dapur. Ssssstt, sebenarnya memasak bukan hobi saya, tetapi kini saya harus menjadikan memasak menjadi hobi dan menyenangkan hati.

Bagi saya, memasak setiap hari sama dengan menulis setiap hari. Di masa pandemi seperti saat ini, saya tak ingin melewatkan peristiwa tanpa sebuah tulisan. Untuk menghalau kebosanan dan tetap menjaga kewarasan, saya mengabadikan apa yang saya masak dalam foto, yang nantinya tentu harus menjadi tulisan yang utuh.
Nah, akhirnya tulisan itu bisa saya unggah hari ini, tentang sayur lodeh.

Sayur lodeh adalah sayur favorit banyak orang. Ada banyak olahan sayur lodeh. Tiap daerah di Nusantara punya resep sayur lodeh masing-masing. Terus sayur lodeh apa yang Bunda Dua Bola masak?
Ini sayur lodeh praktis cepat dan tidak pakai ribet. Bahan yang dipakai seadanya di kulkas.

Bahan yang dipakai ada kacang panjang, labu, buncis, dan santan kara. Lalu bumbu yang dihaluskan bawang merah, bawang putih, tomat, kemiri, dan ketumbar. Bumbu lainnya yang diiris/dimemarkan adalah  cabe merah, rawit hijau, tomat, laos, daun jeruk, dan daun salam. Tentu saja dengan tambahan gula dan garam.

Cara memasaknya mudah saja.
Pertama-tama haluskan bumbu yang sudah disiapkan, bisa pakai blender atau diulek. Saya biasa pakai blender, kelamaan kalau diulek. 
Kemudian tumis bumbu halus bersama minyak goreng secukupnya. 
Kemudian masukkan juga bumbu irisan dan pelengkap lainnya, tumis hingga harum. Kemudian matikan kompor.
Sebelum menumis bumbu, saya merebus sayuran setengah matang. Kenapa harus direbus? Supaya proses pematangan sayur lodeh lebih cepat. 
Setelah rebusan sayur siap, nyalakan kembali kompor dan masukkan sayur pada bumbu yang sudah matang, aduk hingga bumbu merata. Kemudian tambahkan air secukupnya.
Banyaknya air yang dituangkan  sesuai selera, sedikit air jika ingin santan lebih kental.
Selanjutnya masukan santan kara, gula , dan garam. Masak lagi hingga kuah mendidih. Lalu, icip-icip dan jadilah sayur lodeh ala Bunda Dua Bola.
Jadilah sayur lodeh ala-ala Bunda Dua Bola.

Sunday, 15 December 2019

Kenan Stories: Bebaskan Anak Beraktivitas Tanpa Gawai

Malam ini kami (saya dan Kenan) memasang pohon Natal. Bukan pohon Natal baru, tetapi kami menghiasnya dengan suka cita Natal. Kenan tampak senang ketika lampu kerlap-kerlip Natal sudah terpasang, kemudian kami pun berfoto.
Usai memasang pohon Natal, Kenan mengambil kertas HVS dan spidol. Oh rupanya dia mau menggambar. Saya pun mendekat dan bertanya padanya mau menggambar apa. Tapi Kenan malah balik bertanya, menggambar apa ya?  Saya pun mengusulkan padanya untuk menggambar pohon Natal. Dengan bantuan contoh gambar, Kenan bisa menggambar pohon Natal sederhana.
Selanjutnya, Kenan menggambar sesuai idenya sendiri. Kenan menggambar apotek dan stasiun kereta. Yang luar biasa bagi saya, usai menggambar Kenan bisa menceritakan isi gambarnya.
***
Setiap anak bebas membuat gambarnya sendiri. Bebas berekspresi sesuai imajinasinya. Gawai boleh saja mengalihkan perhatiannya sejenak. Pada akhirnya, ia akan asyik dengan kertas dan pensil (spidol, krayon, cat). Dan, ketika itu terjadi pastilah akan berantakan di mana-mana, kertas dan spidol berserakan. Tidak apalah, hanya berantakan saja, bisa dibereskan lagi dalam sekejap. 

Gawai Saingan Terberat Orangtua
Gawai boleh saja datang dan terus menghantui di sekitarnya, siapkan segera aktivitas kreatif untuknya. Orangtua harus siap hadapi musuh terbesar saat ini, yaitu gawai. Gawai, siap menghabiskan waktu terbaik anak kita untuk bermain, hingga gawai bisa memisahkan anak dengan kita, orangtuanya.
Untuk mengalihkan anak kita dari gawai tidaklah mudah. Saya biasanya mengajak Kenan aktivitas menarik seperti bermain tanah atau bermain air selokan sehabis hujan. Kenan pasti langsung menaruh gawainya (jika sedang fokus pada gawai) atau meninggalkan aktivitas lainnya demi untuk bermain tanah atau bermain air. Memang aktivitas ini bisa membuat kita repot karena kotor dan basah, tetapi dijamin anak bisa asyik bermain. Tak apa sedikit kotor dan basah, bisa dicuci dan dikeringkan. 
JADI, tidak apa kotor, tidak apa basah, tidak apa berantakan, karena ada proses belajar dalam setiap aktivitas itu dan ada pengalaman berharga yang luar biasa yang akan dikenang olehnya. (Bunda Kenan)

---------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------

Ayo bermain cat air yuk.. corat coret warna mengasyikkan saat harus dirumah saja.



Monday, 2 July 2018

Momwriter: Anakku Lanang (1)

"Ayo Bunda. Bunda yang temenin," begitu katanya.
Sambil menenteng dummy naskah saya pun mengikutinya ke luar. Dia bermain saya, mengoreksi naskah.
Inilah cara saya menyelesaikan naskah dan pekerjaan saya.

Menjadi seorang ibu adalah sebuah kebanggaan, menjadi seorang penulis adalah keinginan. Ketika keinginan tidak tercapai, tidak masalah. Karena menjadi ibu lebih membanggakan.

Awalnya saya berusaha keras, mentarget, hari ini harus dapat segini, seminggu harus dapat sekian halaman, harus ini, harus itu... Kini saya tak ingin seperti itu. Jalani saja semuanya, yang penting dia senang dan tidak diabaikan.

Saya menulis untuknya, tentangnya, dan bersamanya. Jalani saja dengan hepi.

#ceritabunda #curhatbunda #momwriter

Monday, 11 June 2018

Cerita Bunda: Tentang Mainan Anak

Jika diberi nilai dari 1-10, nilai saya membelikan mainan untuk anak adalah 5. Saya masih berada pada tengah-tengah. Saya bukan termasuk ibu yang pelit membelikan mainan untuk anak. Tetapi saya juga bukan termasuk ibu yang loyal membelikan mainan untuk anak.

Ada banyak variasi mainan yang saya belikan untuk Kenan. Yang paling banyak adalah mobil-mobilan, sesuai jenis mobil yang dikenal oleh Kenan. Kenan juga pernah saya belikan mainan buah-buahan yang bisa dipotong. Kenan juga pernah membeli mainan troli belanja lengkap dengan alat masak. Kenan pernah saya belikan lego, dan masih banyak lagi.

Yang paling menarik perhatian tetangga adalah mainan troli belanja dengan warna dominan merah. Ketika tetangga melihat Kenan membawa troli beserta isinya itu keluar rumah, langsunglah tetangga komentar, "Ih Kenan itu kan mainan cewek." Saya sudah siapkan jawaban yang tetap. "Kenan mau jadi koki alias chef, enggak papa kan bawa-bawa peralatan masak ke sana sini." Kira-kira itu jawaban yang saya titipkan pada Mama saya yang sering mengajak Kenan ke luar rumah.

Bagi saya tidak menjadi masalah jika Kenan ingin main masak-masakan atau main gendong boneka. Mainan itu tidak punya jenis kelamin. Mainan anak perempuan bisa menjadi mainan anak laki-laki, begitu juga sebaliknya. Yang paling penting adalah pendampingan ketika anak bermain. Jangan biarkan anak bermain sendiri karena pemahaman yang salah tentang mainan yang dimainkannya bisa memengaruhi karakternya.

Sebenarnya tahun 2018 ini saya jarang sekali membelikan mainan. Karena ketika ulang tahun Kenan ke-3 ada banyak sekali kado berupa mainan mobil, jadinya koleksi mainan Kenan bertambah luar biasa. Namanya hadiah, masa tidak disyukuri. Cara mensyukurinya dengan membuka plastik mainan tersebut dan memainkannya (hehehe..), bukan disimpan. Saya amat heran dengan orangtua yang menyimpan mainan yang berasal dari kado teman-teman anaknya untuk diberikan pada ulang tahun teman anaknya.

Kalau saya lebih memilih membagikan mainan atau kado lainnya itu pada yang cocok. Misalnya, Kenan mendapat kado baju kaos, tetapi kekecilan bagi Kenan, baju itu diberikan pada anak teman yang usianya di bawah Kenan sehingga baju tersebut pasti muat.

Tentang mainan anak, bagi saya setiap mainan itu mempunyai manfaat untuk perkembangan kecerdasan anak. Bahkan, mainan-mainan yang dimainkan anak itu bisa memperkaya kosakata anak, memperkaya wawasan/pengetahuan anak, dan memperkaya imajinasi anak.

Mainan bisa jadi bermanfaat, tetapi bisa menjadi petaka jika tanpa pendampingan dari orang dewasa.

Pengaruh dari lingkungan bermain anak bisa juga membawa dampak pada cara anak memainkan mainannya. Oleh karena itu, orang tua (orang dewasa) harus mendampingi anak ketika bermain.

Fenomena lain saya temukan ketika mendampingi Kenan bermain. Begitu banyak mainan dan semua mainan sudah dicoba oleh Kenan, kemudian mainan itu ditinggalkannya, Kenan memilih bersepeda atau menonton video.

Kenan mengalami kebosanan. Jika sudah begini, saya harus berikan ide bermain pada Kenan. Dengan memanfaatkan mainan yang ada, saya ajak Kenan memainkan permainan baru dengan mainan yang ada. Misalnya, membuat garasi mobil menggunakan lego. Semua mobil kecil-kecil dimasukkan di garasi mobil. Contoh lainnya, membuat perosotan/seluncuran mobil.

Yang harus menjadi perhatian orangtua ketika mendampingi anak bermain adalah jangan biarkan anak bermain tanpa tujuan. Jadilah orangtua cerdas yang bisa mengarahkan anak bermain bermanfaat.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dipahami anak ketika bermain. Dalam hal ini orangtua atau pendamping perlu ikut aktif dalam bermain.

1. Mengetahui nama benda (jenis mobil)
Ketika sedang bermain mobil, tanyakan pada anak ini mobil apa.

2. Memahami macam-macam warna
Sering-sering menanyakan warna benda ketika sedang bermain.

3. Memahami macam-macam kendaraan berdasarkan fungsinya.
Ketika sedang bermain mobil, tanyakan ini mobil apa.

4. Mengetahui nama sayuran dan buah beserta warnanya (mainan potong buah dan sayur)
Saat bermain potong buah dan sayur, sering-sering tanyakan, ini buah apa, ini sayur apa, warnanya apa.

5. Memahami macam-macam profesi (dari permainan masak-masakan, muncul profesi koki)
Saat bermain mobil, pesawat, atau bus, munculkan istilah masinis, pilot, supir, dan sebagainya.

6. Dan sebagainya.

#ceritabunda
#bundabelajar

Monday, 1 January 2018

Bermain di Luar Rumah

Saya tertarik dengan ajakan sebuah iklan sabun, "Ayo bermain di luar."
Ajakan ini sangat positif dan patut diikuti oleh seluruh keluarga Indonesia.
Di era gawai ini, anak-anak cenderung menyukai berlama-lama duduk dengan gawai-nya masing-masing. Anak-anak tidak banyak bergerak sebagaimana mestinya.

Orangtua memang tidak bisa melepaskan anak dari keberadaan gawai. Walaupun orangtua bersikeras menjauhkan anak dari gawai, anak tetap akan bersinggungan dengan gawai melalui lingkungan pergaulannya.

Ada hubungan erat antara bermain di luar dan gawai. Bermain di luar bisa membuat anak melupakan dari gawai.  Anak-anak menyukai aktivitas bergerak yang dilakukan di luar rumah. Namun, orangtua kadang malas menemani anak bermain di luar.

Anak saya, Kenan (3 tahun), sudah tertarik dengan gawai. Bagaimana tidak tertarik, kami orang dewasa, ayah, bunda, dan neneknya sering lupa pada situasi sehingga fokus pada gawainya masing-masing. Hal ini membuat Kenan pun ikut-ikutan memegang gawai.
Hal seperti di atas, saya yakin dialami oleh semua orangtua. Ada orangtua yang santai saja menanggapinya dan memberi kebebasan pada anak memakai gawai. Ada pula orangtua yang ekstra ketat melarang anaknya menggunakan gawai, kecuali hari libur.
Saya termasuk orangtua yang berada pada posisi tengah, saya tidak melarang anak saya bersentuhan dengan gawai, tetapi saya juga tidak memberi kebebasan memegang gawai. Jadi sebenarnya tergantung orangtua, bukan? Ketika anak sudah suka pada satu aktivitas di gawai, bermain game atau menonton kartun edukasi Youtube, akan sulit memintanya berhenti. Nah, jadi harus ada aktivitas pengganti untuk anak bisa meninggalkan gawainya.

Bermain di luar rumah bisa menjadi pilihan untuk menjauhkan anak dari kebiasaan bermain gawai. Orangtua dapat mengajak anak melakukan aktivitas permainan di luar rumah, bisa di teras, halaman, atau di taman kompleks. Bermain di luar rumah membuat anak bergerak bebas. Nah, kini tugas orangtua  menciptakan permainan yang menarik untuk dimainkan bersama anak.

Warning: Ingat ya, dimainkan bersama, bukan menyuruh anak bermain sendiri, sementara orangtua duduk diam memperhatikan.

Bermain di luar rumah bisa dilakukan kapan saja, pagi, siang, sore, maupun malam hari. Orangtua bisa menyesuaikan waktu sesuai kondisi. Bagi orangtua yang bekerja, bisa mengajak anak bermain di luar rumah ketika liburan tiba. Atau orangtua bisa memberitahukan pada orang yang mengasuh atau menemani anak untuk mengajak anak bermain di luar rumah.
Bagi orangtua (ayah/ibu) yang bekerja di rumah, bermain di luar rumah bisa selalu dilakukan kapan saja. Bermain di luar rumah tidak perlu dilakukan setiap hari, yang utama mengimbangi kegiatan sehari-hari anak.

Bermain di luar rumah tidak melulu bermain. Orangtua bisa menambahkan aktivitas edukasi yang bermanfaat seperti menghijaukan lingkungan, kerja bakti membersihkan halaman, atau merawat tanaman.

Berikut ini ide aktivitas/permainan untuk bermain di luar rumah bersama anak.
1. Bermain bola atau mainan lain
2. Bermain pasir
3. Menyiram tanaman
4. Menanam pohon
5. Melukis botol atau kaleng bekas untuk pot atau benda fungsional lainnya
6. Bermain drum dari kaleng bekas

Enam ide di atas sudah pernah saya lakukan. Bukan bermaksud untuk bermain di luar, tetapi ternyata bermain di luar itu bermanfaat untuk kecerdasan serta tumbuh kembang anak.

Ditulis oleh Paskalina Askalin


Monday, 11 December 2017

Mainan Berantakan itu Banyak Manfaatnya

Mainan berantakan menjadi pemandangan setiap hari bagi seorang ibu di rumah. Saya seorang ibu yang full berada di rumah dan setiap saat harus membereskan mainan di rumah. Kadang-kadang saya biarkan mainan berantakan sekali, sore atau malam hari baru saya bereskan pada tempatnya. Saking seringnya membereskan mainan, saya kadang merasa bosan, tetapi saya berusaha menikmatinya.

Anak saya, Kenan, Januari 2018 nanti berusia 3 tahun. Saat ini paling suka membongkar mainannya, mengeluarkan semua mainan yang ada dan menjadikan ruangan "kapal pecah". Jujur ya, secara manusiawi, melihat mainan berantakan itu rasanya pengen marah. Tetapi saya berusaha menekan emosi saya untuk menikmati semua yang saya lihat. Saya senyumin aja...

Saya memetik hikmah dari mainan yang berantakan.

Pertama, saya dan semua orang rumah jadi berolahraga setiap hari. Memunguti mainan kecil-kecil dan gerakan jongkok-berdiri menjadi gerakan olahraga alamiah. Tanpa disadari kita jadi mengeluarkan keringat dengan membereskan mainan anak.

Kedua, merangsang motorik anak. Memberantakin mainan membuat Kenan bergerak dengan bebasnya. Dalam hal ini, anak masih harus dalam pengawasan supaya aktivitasnya tidak membahayakan diri anak. Semua mainan keluar dari tempatnya, anak bebas memilih mainannya dan membuatnya bergerak ke sana ke mari. Ayah dan bunda bebaskan hati dari marah dan lelah, senyumin aja semua aksi anak-anak bersama mainannya. Yang penting tetap dalam pengawasan.

Ketiga, menjauhkan anak dari gadget. Bermain bersama mainannya membuat anak tidak bermain gadget. Saya berani katakan membiarkan anak memberantakkan mainannya membuat anak bebas, bergembira dan bisa bermain sesukany. Kita semua tahu, gadget bisa berpengaruh buruk pada perkembangannya di masa golden age ini. Jadi saran saya, jangan larang anak memberantakin mainannya supaya tidak tergantung pada gadget.

Keempat, meningkatkan kreativitas anak. Saya katakan meningkatkan kreativitas karena dari sekian banyak mainan yang diberantakinnya anak mampu mencipta ide-ide bermain ala dia sendiri.

Kelima, mengasah daya ingat. Kenan mempunyai banyak sekali mainan, mulai dari mainan alat musik, alat pertukangan, mobil-mobilan berbagai jenis dan ukuran, mainan alat masak, mainan buah-buahan, puzzle bentuk, hingga lego warna warni. Ada mainan yang saya belikan satu atau dua tahun lalu, kemudian tersimpan dalam kotak mainan dalam waktu lama. Ketika mainan-mainan itu dibongkar semua dan diberantakkan di lantai, Kenan bisa mengingat setiap mainannya, dan cara menggunakannya. Akhir-akhir ini Kenan suka sekali memberantakkan mainannya dan ketemulah dia dengan lego yang saya beli dua tahun lalu. Kenan langsung memainkan terus lego hingga membuat berbagai bentuk bangunan sesuai kreasinya. Selain lego, Kenan juga bertemu lagi dengan mainannya obeng, tang, gergaji, kunci inggris, dan sebagainya, Kenan bisa mengingat dengan baik setiap nama alat-alat itu.

Keenam, melatih tanggung jawab. Ketika anak kita memberantakkan mainan, saatnya kita sebagai orangtua menumbuhkan karakter tanggung jawab sejak dini. Sedini mungkin Kenan juga sudah saya ajarkan untuk membereskan mainannya sendiri. Kadang Kenan sulit diminta untuk membereskan mainnya, namanya juga anak-anak. Tetapi kitalah orangtua yang harus sabar membimbingnya terus-menerus. Dengan dibimbing terus-menerus lama-lama menjadi kebiasaan.

Ayah bunda, saudara saudariku terkasih, dunia anak-anak adalah bermain, jadi jangan hilangkan waktu bermainnya, jangan kurangi waktu bermainnya. Karena dalam setiap waktu bermain, saat itulah dia belajar banyak hal.

Ditulis oleh Paskalina Askalin

Thursday, 21 September 2017

Day21 Perlukah Mengajarkan Anak Berdoa?

Pasti semua orangtua dan siapa pun menjawab, PERLU. Ya, saya juga setuju, jika kita selaku orangtua atau orang dewasa harus mengajarkan anak untuk berdoa.



Kenan selalu berdoa sebelum makan ketika hendak makan. Kadang malah saya yang lupa untuk mengingatkannya berdoa sebelum makan. Saya sendiri pun suka lupa berdoa.

Berdoa adalah komunikasi antara suatu pribadi dengan Tuhan-nya. Apa pun agamanya, doa merupakan komunikasi manusia dengan Tuhan-nya.
Saat ini Kenan masih berusia 28 bulan, dan belum muncul pertanyaan darinya tentang doa. Ketika diminta berdoa sebelum makan, Kenan akan berdoa. Tanpa bertanya ini dan itu. Tetapi terus terang, saya juga tidak mempunyai jawaban yang tepat ketika Kenan bertanya, "Kenapa harus berdoa, Bunda?" Mungkin jawaban yang terbersit saat ini adalah kita harus berdoa sebagai rasa syukur atas limpahan rejeki yang diberika oleh Tuhan. Saya berharap, nanti suatu saat ketika Kenan bertanya hal ini saya bisa menjawab lebih baik.

Doa Katolik
Sebagai seorang Katolik dan sesuai janji saya di depan altar ketika menerima Sakramen Perkawinan, saya akan mendidik Kenan secara Katolik. Doa-doa yang sudah terbiasa Kenan dengar dan ucapkan adalah Doa Bapa Kami dan Doa Salam Maria

Mengenalkan Kenan pada doa, bukan dengan cara dihafalkan tetapi dengan cara pembiasaan. Terbiasa mendengar dan mengucapkan doa akan memudahkan Kenan memahami doa. Seperti pengalaman bulan Mei 2017. Beberapa kali Kenan ikut acara Doa Rosario bersama. Mendengarkan Doa Salam Maria sebanyak 253 kali membuat Kenan bisa mengucapkan Doa Salam Maria. Walaupun saat doa itu Kenan sibuk dengan aksinya bermain ini dan itu, tetapi telinganya mendengar dengan cermat doa yang diucapkan.

Jangan paksa anak menghafal doa, tetapi ajak anak untuk selalu ikut berdoa, baik dalam lingkup keluarga maupun lingkungan sekitar. Dengan sendirinya anak akan bisa berdoa. -Paskalin Askalin

#day21 #septembercerita #momwriting #kenanstories #writingchallenge #berdoa #doakatolik

Sunday, 10 September 2017

Day10 Kenan Mau Setrika, Boleh?

Apa yang Anda lakukan saat anak memaksa ingin menyetrika baju ketika Anda sedang menyetrika baju? Pastilah Anda akan menyuruh anak pergi menjauh karena takut anak terkena setrika yang panas. Itu pun saya lakukan hari ini. Saya beradu argumen dengan Kenan (2,8 tahun) karena ingin menyetrika baju. Saya dengan keras melarang Kenan mendekat. Tetapi yang terjadi Kenan malah memaksa terua mendekat. Akhirnya, Kenan diajak pergi oleh Uti-nya, dan saya melanjutkan setrika baju.

Orangtua dengan keukeuh mengatakan setrika panas berbahaya, sedang anak keukeuh ingin mencoba setrika. Apa yang saya lakukan sudah benar?

Anak meniru apa yang dilakukan orang di sekitarnya. Anak seusia Kenan belum paham jika setrika itu bisa melukainya jika tidak hati-hati menggunakannya. Setelah saya pikirkan lagi, yang saya lakukan kurang tepat. Cara saya beradu argumen dengannya, seharusnya tidak terjadi.

Akhirnya, Kenan mencoba menyetrika bajunya sendiri, tetapi tentu dengan tanpa dicolok pada sambungan listrik. Kenan senang sekali bisa menyetrika bajunya.

Kenan sedang asyik menyetrika (tanpa disambungkan listrik).
Renungan saya:Orangtua seperti saya, terlalu cepat melarang anak melakukan ini dan itu, saya cepat marah pada anak saya karena keingintahuan anak saya pada banyak hal yang dilihatnya. Keingintahuan anak kadang menyerempet pada sikap seakan-akan anak mengganggu kita, padahal anak hanya ingin tahu. Orangtua harus lebih sabar dan cerdas memberikan pemahaman pada anak.Kejadian seperti di atas, bisa terjadi dalam berbagai aktivitas. Rasa keingintahuan anak, membuat anak seperti nakal yang suka mengganggu. Padahal sikap anak ini menunjukkan kepeduliannya pada orang dan lingkungan sekitarnya.

Di usia Kenan saat ini, 2,8 tahun, Kenan selalu ingin dilibatkan dalam berbagai hal yang dilakukan, karenanya sebisa mungkin saya dan semua anggota keluarga melibatkan Kenan. Ketika saya membuatkan susu, Kenan membantu menuangkan air. Ketika ayah mencuci motor, Kenan ikut mencuci motor. Ketika Bunda mau membuang sampah, Kenan membantu membawakan sekantong sampah. Dan, masih banyak lagi kegiatan di rumah yang ikut melibatkan Kenan.

Tidak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orangtua yang baik. Orangtua harus belajar terus bersamaan dengan bertumbuhnya anak menjadi dewasa dan tiba waktunya menjadi orangtua. -Paskalina Askalin


#day10 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #goldenage #anakusiadini #orangtuabijak

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...