Showing posts with label karakter positif. Show all posts
Showing posts with label karakter positif. Show all posts

Saturday, 29 September 2018

Indonesian Dreams Story, 18 Karakter Anak Indonesia

Indonesian Dreams Story, 18 Karakter Anak Indonesia

Jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air adalah bagian nilai dari 18 nilai karakter anak Indonesia yang ada dalam buku Indonesian Dreams Story . Delapan belas nilai karakter itu bersumber dari 18 nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Nilai-nilai karakter tersebut sejak tahun 2011 disisipkan dalam proses pendidikan di sekolah dan disisipkan pula dalam buku pelajaran sekolah.

Nilai karakter bangsa ini sangatlah tepat disebut sebagai nilai karakter anak Indonesia karena 18 nilai karakter ini merujuk dalam berbagai aspek kehidupan anak Indonesia. Oleh karenanya, 18 nilai karakter ini layak dan wajib ditumbuhkan dalam hati dan pikiran anak-anak calon generasi masa depan Indonesia. Kelak kemajuan bangsa Indonesia ada di tangan anak-anak yang kini masih duduk di bangku sekolah.



Jika 18 nilai karakter diberikan dalam bentuk teori dalam buku pelajaran, tentulah anak-anak langsung menjauh. Oleh karenanya, hadirlah buku  Indonesian Dreams Story yang menyajikan 18 nilai karakter Indonesia melalui bentuk cerita.  Indonesian Dreams Story adalah karya terbaik dari 18 penulis dan didukung 10 ilustrator.

Saya patut berbangga hati, salah satu penulis itu adalah saya, Paskalina Askalin. Saya menulis tentang karakter jujur. Saya berharap sekali anak-anak Indonesia di masa depan bisa menjadi generasi anak jujur.


Cerita-cerita dalam Indonesian Dreams Story dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh anak-anak. Adanya ilustrasi warna untuk setiap cerita menambah ketertarikan anak untuk membaca buku ini. Pada akhir cerita terdapat hikmah cerita dan himbauan yang dapat memudahkan anak memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.


Identitas buku
Judul: Indonesian Dreams Story, 18 Karakter Anak Indonesia
Penulis: 18 Penulis Keren
Ilustrator: 10 Ilustrator Keren
Penerbit: Visi Mandiri, Solo
Terbit: Cet I, 2018
Harga: Rp 70.000
Bisa dibeli di KEN KEN BOOK STORE atau TOKONYA KEN KEN

18 Karakter Anak Indonesia
1. Religuis
2. Rasa Ingin Tahu
3. Cinta Tanah Air
4. Bersahabat
5. Semangat Kebangsaan
6. Demokratis
7. Gemar Membaca
8. Cinta Damai
9. Menghargai Prestasi
10. Tanggung Jawab
11. Peduli Sosial
12. Peduli Lingkungan
13. Jujur
14. Toleransi
15. Disiplin
16. Kerja Keras
17. Kreatif
18. Mandiri

Friday, 9 February 2018

18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

Dulu ketika masih jadi karyawan, saya pernah mau membuat projek penulisan buku 18 karakter bangsa, tetapi akhirnya gagal, rencana yang saya buat masuk ke tempat sampah. Namun ide buku ini masih nyantol di kepala saya.

Tahun lalu akhirnya saya menulis 1 buku untuk 1 karakter bangsa ini.  Sebuah penerbit memberi saya tempat untuk menulis. Tidak tanggung-tanggung, 1 buku berisi 15 cerita anak. Tema yang saya ambil adalah tentang JUJUR. Dalam waktu dua minggu naskahnya selesai saya tulis, sempat tidak tidur 2 malam karena ingin segera menyelesaikan sebelum mudik Natal. Lima belas cerita itu akhirnya lulus sensor dari mbak editor sehingga saya tidak perlu revisi, Puji Tuhan.

Tema buku karakter bangsa sebenarnya banyak dalam buku-buku anak saat ini. Namun, karena ide cerita yang "luar biasa keren" nilai karakter bangsa-nya menjadi lesap, hingga nyaris sulit ditemukan. Delapan belas nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa haruslah ditanamkan sejak dini supaya. Salah satu caranya melalui buku-buku bacaan yang akan dibaca oleh anak-anak kita. Namun, kemudian muncul masalah, minat baca anak-anak sama rendahnya. Ini memang masalah klasik, silakan para orangtua yang masih mempunyai anak-anak usia dini dan usia sekolah, berikan contoh kebiasaan membaca pada anak-anaknya.


18 NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


Jika ada yang lupa, apa saja sih 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa  itu, saya kutipkan beserta penjelasannya.

1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Delapan belas nilai-nilai karakter bangsa itu baik sekali menjadi ide sebuah buku.  Namun, akan lebih baik jika nilai-nilai itu menjadi semangat dalam keluarga Indonesia.

Monday, 8 January 2018

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

Pengalaman saya sebagai seorang ibu….
Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.

Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.

Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.

Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya membantu proses belajar anak untuk menjadi bisa.

Sering sekali saya melihat, orangtua atau pengasuh anak yang membawakan tas anak ketika pergi dan pulang sekolah. Menurut saya hal ini memutus proses kemandirian anak. Anak menjadi manja, tidak mau dan tidak peduli pada tasnya sendiri. Lama kelamaan hal ini akan terbawa terus hingga remaja.

Berikut ini beberapa kebiasaan orangtua atau orang dewasa atau pengasuh anak, yang membuat anak tidak mandiri:
- Menyuapi makan
- Memakaikan sandal/sepatu
- Membawakan tas saat pulang dan pergi sekolah
- Mengambilkan barang
- Melarang anak membantu
- Membereskan mainan anak

Enam hal di atas sering dilakukan orangtua pada anaknya atau orangtua menyuruh pengasuh anak melakukan hal itu demi anaknya. Saya sebagai orangtua kadang juga terlena untuk memudahkan segala hal demi anak. Tetapi yang saya lakukan justru membuat anak manja, tidak mandiri.
Saya ingin menanamkan kemandirian sejak dini pada anak saya. Saya memulainya dengan makan sendiri tanpa disuapi. Saya memintanya mengambil barang yang diinginkan sendiri. Saya memintanya membantu membereskan mainannya. Saya melibatkan anak saya dalam berbagai aktivitas yang saya lakukan. Hasilnya… kini anak saya bisa makan sendiri, bisa memakai sandal sendiri tanpa pernah terbalik kanan di kiri atau kiri di kanan, anak saya bisa mengambil minum sendiri, dan masih banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan sendiri olehnya.
Untuk sampai pada kemandiriannya, saat ini sebagai seorang Ibu saya harus sabar menghadapi kerepotan atau berantakan karena ulahnya. Saya nikmati itu dengan bahagia.

Tulisan dari blog sebelah, www.paskalina.wordpress.com

Wednesday, 20 September 2017

Day20 Ekspresi Kenan

Pernah beberapa kali saya mengajak Kenan untuk membuat berbagai ekspresi muka. Ada banyak ekspresi yang diperagakan Kenan, misalnya, Ekspresi senang, sedih, bete, bahagia, kaget, dan sebagainya. Kenan bisa membuat ekspresi-ekspresi itu.
Menurut KBBI Daring EKSPRESI adalah (1) pengungkapan atau proses menyatakan (memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya), (2) pandangan air muka yang memperlihatkan perasaan seseorang). Ekspresi wajah bisa menunjukkan keadaan seseorang. Ekspresi wajah kita juga bisa menunjukkan rasa empati kita pada oranglain.
Pernah saya melihat seseorang yang memiliki wajah tanpa ekspresi. Ketika senang, ekspresinya biasa. Ketika sedih pun, ekspresinya biasa saja. Tentu saya tidak mau anak saya menjadi anak tanpa ekspresi, yang akhirnya bisa membuat dia dianggap tidak mempunyai kepedulian. Bayangkan saja jika sedang pergi ke sebuah rumah duka, ekspresinya malah bahagia. Tentunya hal ini bisa dianggap tidak punya rasa empati pada oranglain yang sedang berduka.
Ekspresi itu perlu dilatihkan sejak anak masih usia dini (menurut saya). Kenapa? Apa gunanya? Dengan memahami ekspresi, anak sedini mungkin belajar memahami dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Anak juga belajar untuk peduli pada perasaan orang lain. Rasa empatinya bisa terbangun sejak dini.
Dalam berbagai kesempatan saya ajak Kenan bermain-main dengan ekspresi. Bukan tanpa alasan saya mengajaknya berekspresi. Saya ingin kelak Kenan bisa berempat pada apapun yang terjadi pada orang-orang yang ada di dekatnya.

#day20 #septembercerita #writingchallenge #momwriting #kecerdasan #kenanstories #ekspresi

Sunday, 3 September 2017

Day3 Bantu Ayah Menyapu

"Hari ini aku bantu ayah menyapu halaman," kata Kenan.

Bagi mereka yang tinggal di apartemen (mungkin, menurut saya) sulit untuk mengenalkan pada anak usia dini tentang menyapu halaman. Saya bersyukur masih berada di lingkungan yang dekat pohon-pohon sehingga ada banyak daun berjatuhan di bawah pohon. Jadinya, kegiatan menyapu halaman menjadi kegiatan rutin yang selalu dilihat oleh Kenan.

Pagi ini ayah di rumah. Ayah berniat menyapu halaman dari daun-daun kering yang jatuh dari pohon nangka di depan rumah. Pohon nangka itu punya tetangga, tetapi daun-daunnya sesuka hati jatuh di halaman banyak orang.



Ketika melihat ayahnya pegang sapu, Kenan langsung mendahului dan berseru, "Kenan yang sapu, Yah." Jadilah Kenan yang menyapu dan ayah membersihkan daun kering dengan alat seadanya.
Ketika pagi-pagi, mendengar suara Uti-nya (Nenek), Kenan akan langsung beranjak dari tempat tidur dan membantu menyapu. Walau kadang, antara membantu dan mengganggu Uti-nya beda tipis J
Kini, tanpa disuruh pun Kenan sudah pasti ikut menyapu halaman ketika Uti atau Ayahnya menyapu halaman. Dengan melihat setiap hari kegiatan yang dilakukan di rumah, secara langsung Kenan meniru apa pun yang dilakukan.

Jadi, akan menjadi bahaya jika anak melihat kebiasaan jelek yang dilakukan oleh orangtuanya. Untuk kebiasaan baik, seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak, membereskan tempat tidur, itu bukanlah jadi persoalan. Anak laki-laki dan anak perempuan, sama-sama perlu mengenal semua kebiasaan atau pekerjaan rumah seperti itu. Untuk  kebiasaan jelek yang sering dilakukan orang dewasa, itu hanya harus menjadi perhatian. Sebaiknya, anak tidak melihat perbuatan, atau mendengar perkataan yang tidak baik, karena anak akan dengan mudah menirunya.

Saya pribadi, dan seluruh anggota keluarga di rumah, seringkali menunjukkan sikap marah, berteriak, menyumpah serapah ketika ada di dekat Kenan. Saya sadar betul, itu harus saya ubah segera, sebelum semuanya terlambat.

Perlihatkanlah kebiasaan baik di hadapan anak-anakmu. Sembunyikan kebiasaan jelekmu, hingga baunya pun tidak akan tercium oleh anakmu – Paskalina Askalin

#day3 #pedulilingkungan #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...