Showing posts with label catatan editor. Show all posts
Showing posts with label catatan editor. Show all posts

Monday, 15 October 2018

Resensi Buku: Buku Pintar Penyuntingan Naskah (Edisi Ketiga)

Judul: Buku Pintar Penyuntingan Naskah (Edisi Ketiga)
Penulis: Pamusuk Eneste
Penerbit: Gramedia
Tahun: 2017

Penyuntingan berasal dari kata dasar sunting. Sunting artinya menyunting. Menurut KBBI Luring, menyunting adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). Menyunting juga dikenal dengan istilah mengedit.

Dari makna di atas jelas sekali bahwa proses sunting-menyunting ini adalah yang paling krusial dalam terbitnya sebuah karya buku. Perlu pemahaman yang benar tentang ejaan, diksi, dan struktur kalimat. Buku karya Pamusuk Eneste ini bisa membantu Anda yang ingin terjun ke dunia penyuntingan buku atau naskah.

Edisi pertama buku ini terbit tahun 1995. Kini edisi ketiga buku ini telah hadir dan tentunya dengan banyak perubahan di dalamnya.

Pada edisi ketiga ini penulis menambah pembahasan tentang naskah, penyuntingan naskah, penyunting naskah, editor, kode etik penyunting naskah, pemakaian kata tertentu, gaya penerbit/gaya selingkung, dan naskah bacaan anak. Selain itu juga dilengkapi dengan tips bagi penyunting naskah, beserta contoh-contoh dan latihan.

Buku Pintar Penyuntingan Naskah ini saya rekomendasikan dimiliki oleh penulis buku, penulis artikel, penulis novel, penulis pemula, dan calon penulis tentunya. Kenapa saya rekomendasikan untuk penulis? Supaya penulis bisa menyunting sendiri naskahnya sebelum dikirim ke penerbit. Dengan demikian, editor akan lebih menyukai naskah Anda daripada naskah-naskah lain yang tidak mendapatkan "sentuhan" penyuntingan.

Selain oleh penulis, buku ini wajib dimiliki oleh mahasiswa yang mengambil jurusan penyuntingan, calon editor, dan editor. Karena dalam buku ini Anda akan mendapat penjelasan menyeluruh tentang proses penyuntingan naskah dari awal hingga akhir. Pembahasannya tidak hanya sebatas prosesnya, pelaku penyuntingannya pun dibahas. Misalnya tentang syarat menjadi penyunting naskah. Bagi Anda yang berprofesi menjadi penyunting naskah apakah sudah memenuhi 13 syarat yang disebutkan dalam buku ini? Untuk lebih jelasnya, Anda harus memiliki buku ini. Buku ini pasti akan menjadikan Anda lebih pintar jadi editor naskah dan menjadi penulis pintar yang bisa membuat editor tak bisa menolak naskah Anda. (Salam Editor)

Thursday, 4 October 2018

Resensi Buku: Catatan Antibingung Menulis Buku Ilmiah

Judul: Catatan Antibingung Menulis Buku Ilmiah: Membedah Pedoman Dikti dan LIPI dalam Penulisan-Penerbitan Buku Ilmiah
Penulis: Bambamg Trim
Penerbit: PT Inkubator Penulis Indonesia
Ukuran buku: 130 x 175 mm
Tebal: xviii + 86
Tahun: 2018
Harga: Rp 70.000

Beberapa waktu lalu, saya mengedit dua buku perguruan tinggi. Buku satu ketebalan 400 halaman dan buku dua ketebalan 600 halaman. Ada hal yang membuat saya galau, yaitu pencantuman gelar penulis pada kover buku.  Jika dilihat secara kasatmata dari nama penulis dengan banyak gelar, mungkin mahasiswa dan dunia perguruan tinggi menganggap penulis buku ini begitu hebat.

Sebagai editor saya tidak sepakat dengan pencantuman gelar pada buku. Saya ingin menghilangkan gelar yang tercantum di kover, tetapi saya tidak punya sumber rujukan yang mengatakan jika pencantuman  gelar penulis pada kover buku itu tidak perlu.

Nah, baru sekarang saya tahu jika kegalauan saya itu memang tidak perlu. Sebuah buku mungil menajamkan pendapat saya tentang tidak perlunya mencantumkan gelar penulis pada  kover buku.

Pada halaman 51-52 buku ini dibahas tentang pencantuman gelar akademis pada kover buku. Berikut ini kutipan lengkapnya.

====

Pencantuman Gelar Akademis pada Kover Buku
Sudah menjadi konsensus gelar akademis tidak perlu dicantumkan di dalam KTI. Mungkin para pakar yang membuat konsensus ini menyadari bahwa tidak ada relevansi langsung antara gelar dan karya tulis seseorang, terutama kontennya. Malah jangan sampai gelarnya sudah profesor, tetapi karya tulis ilmiahnya justru mengundang pertanyaan, "Masa sih profesor nulisnya seperti ini?"
Masih banyak akademikus yang tidak dapat menerima gelar akademisnya tidak dicantumkan di kover buku. Ia meradang walau tidak menerjang. Ia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah konsensus yang berlaku secara internasional di dunia akademis. Demikian pula, penyusunan daftar pustaka juga tidak boleh  mencantumkan gelar akademis dan gelar-gelar lainnya.
Nama lengkap dan gelar akademis dapat dicantumkan di dalam bagian Riwayat Penulis, baik yang diletakkan pada bagian awal  (preliminaries) atau bagian akhir (postliminaries) buku. Riwayat penulis sejatinya berisikan latar belakang pendidikan dan reputasi penulis yang relevan dengan isi buku.

====

Buku Catatan Antibingung Menulis Buku Ilmiah ini sudah menjawab satu kebingungan saya. Masih banyak materi antibingung dalam buku ini yang juga semakin memantapkan saya menjadi editor, terutama editor buku perguruan tinggi.

Dalam buku ini dibahas tentang apa itu buku ajar, buku teks, buku ilmiah,  dan buku referensi. Jika kita masih bingung tentang istilah monografi, prosiding, modul, bunga rampai, katalog, direktori, atlas, buku pegangan, buku panduan, semua dibahas di buku kecil ini. Meskipun kecil, buku ini isinya padat dan bisa menjadi pegangan bagi penulis buku dan calon penulis buku. Oleh karenanya saya rekomendasikan buku ini untuk dimiliki oleh penulis buku, guru, dosen, mahasiswa, dan pelajar.

Monday, 1 October 2018

Catatan Mantan Editor Buku (1)


Catatan Mantan Editor Buku (1)

Menjadi editor buku hanya mengedit, itu biasa saja. Editor dituntut harus bisa menulis buku, adalah luar biasa. Editor penerbit (saya, misalnya) mau tidak mau berada pada posisi harus bisa menulis buku, dengan status penulis bayangan, penulis karyawan, atau sebutan lainnya. 

Saking luar biasanya, dalam beberapa hari saja editor bisa menyelesaikan 1 buku siap cetak, sungguh editor super. Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia penerbitan buku, kebutuhan pasar menjadi yang utama. Editor harus siap memenuhi permintaan si bos penerbit.

Ketika saya menjadi editor, ada beberapa jenis buku yang saya tulis. Karena saat itu penerbit tempat saya kerja banyak menerbitkan buku-buku proyek, buku-buku yang saya tulis tak sempat bertengger di toko buku. Namun kalau dalam hal jumlah cetak, bisa fantastis, satu judul buku bisa puluhan ribu eksemplar. Wowww, jangan tanya berapa yang saya dapatkan. Saya hanya penulis karyawan, diberi honor menulis disyukuri, kalau pun tidak diberi, ikhlaskan saja. Saya memang tidak mendapatkan nominal apa-apa, tetapi saya belajar banyak. Hasilnya saya terima kemudian, Tuhan memberikan rezeki halal melalui kompetisi buku yang saya ikuti. (Baca Rasa Syukur: Tiga Buku Lolos)

Berikut ini beberapa jenis buku pengayaan sekolah yang pernah saya tulis ketika menjadi editor (penulis karyawan).

1. Psikologi Remaja
Panduan Menjadi Remaja Percaya Diri (SMP/SMA)

2. Seni dan Kerajinan
Seni dan Kerajinan Batik (SD)
Seni dan Kerajinan Anyaman (SD)
Seni dan Kerajinan Gerabah (SD)

3. Bahasa Indonesia
Asyiknya Menulis Resensi (SD/SMP)
Asyiknya Menulis Diary (SD/SMP)
Asyiknya Bermain Drama (SD/SMP)
Namira Belajar Pantun (SD/SMP)
Aku Suka Dongeng (SD/SMP)

4. Wirausaha
Ide Bisnis Anak Muda (SMP/SMA)

5. PAUD (Picture Book)
Ami si Kriwil
Ciluk Baa
Bee dan Sekantung Madu
Mia Sayang Semua
Hadiah Balon dari Paman Gobil
Ayo Bermaaf-maafan
Siapa Suka Buah
Tralala.. Trilili...

Judul-judul di atas adalah judul buku yang saya tulis. Masih ada beberapa judul yang belum masuk didaftar tersebut. Keyakinan saya, setiap buku mempunyai nasibnya masing-masing, walau kadang penulisnya tak bisa lagi menyentuh karyanya.

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...