Showing posts with label tip menulis. Show all posts
Showing posts with label tip menulis. Show all posts

Friday, 5 October 2018

Menulis Yuk: Kalau Mau Menulis Harus (Banyak) Membaca

Menulis Yuk: Kalau Mau Menulis Harus (Banyak) Membaca

Untuk yang berniat menulis (buku, cerita anak, dan sebagainya),

Dalam setiap pelatihan menulis atau sharing dari penulis, kalimat "KALAU MAU MENULIS HARUS (BANYAK) MEMBACA" itu pasti disampaikan. Semua penulis menyakini kebenaran kalimat ini. Jika ingin menulis, tidak mau membaca, itu adalah sebuah ketidakmungkinan.

Apa yang dibaca? Mungkin itu yang akan Anda tanyakan ketika mendengar kalimat, "Kalau Mau Menulis Harus (Banyak) Membaca". Baca apa saja. Ada buku bacalah buku, ada majalah bacalah majalah, ada koran bacalah koran, dan seterusnya.

Anda juga bisa membaca buku sesuai dengan jenis buku yang ingin Anda tulis. Misalnya, Anda ingin menulis cerita anak, tentunya Anda harus membaca cerita anak. Cerita anak dapat Anda baca dari buku atau majalah anak.

Saya ingin bisa menulis cerita anak,  maka saya membeli buku-buku kumpulan cerita anak. Tidak hanya buku, sudah hampir dua tahun ini saya langganan majalah Bobo. Semua cerita anak, baik cerita pendek, dongeng, cerita bergambar, maupun artikel-artikelnya saya baca.

Anda mau menulis apa (buku, cerita, artikel, dsb)? Mungkin Anda tak bisa menjawab pertanyaan ini. Nah inilah akibat dari tidak pernah membaca.

Belum lama ini, saya di-WA oleh dua sahabat saya waktu kuliah. Kebetulan dua sahabat saya ini berprofesi sebagai guru dan mereka sama-sama berada di dua kota besar yang berbeda di Indonesia. Mereka berujar " Saya ingin bisa menulis." Langsung saya jawab, "Ya, menulislah." Jawabnya, "Tidak tahu mulai dari mana." Lalu saya tawarkan sebuah buku berisi kumpulan cerita mini untuk bacaan anak usia SD. Buku ini ditulis oleh guru-guru SD dari berbagai sekolah, termasuk saya ikut menyumbang dua cerita mini. Saya tidak bermaksud mencari keuntungan, saya hanya ingin sahabat saya ini membaca cerita mini yang ditulis oleh guru yang belum pernah menulis cerita atau menulis buku, karya tulisan mereka sebelum buku ini ada, hanyalah skripsi. Mungkin dengan MEMBACA buku ini sahabat saya bisa memulai menulis. Dan harapan terbesar saya, sahabat saya ini bisa menularkan "semangat menulis" pada anak didiknya.

Pada akhirnya dua sahabat saya ini TIDAK MEMBELI BUKU yang saya tawarkan. Saya jadi bingung mau ngajari menulis bagaimana. Saya tidak bisa memberi tip, kiat, trik, atau apapun itu untuk dua sahabat saya ini. Karena pasti percuma, karena mereka tak mau mencoba membaca buku karya orang lain.

Fakta di atas membuktikan jika tak mungkin Anda bisa menulis jika tak mau membaca. Ditambah lagi, tak mau membeli buku. Tutuplah sudah harapan Anda ingin menjadi penulis.

Ingin jadi penulis buku
Ingin jadi penulis cerita anak
Ingin jadi novelis
Ingin jadi penulis ... dan seterusnya.

Ikuti kalimat ini:
KALAU MAU MENULIS HARUS (BANYAK) MEMBACA (TITIK)

Sunday, 1 July 2018

Nasihat Diri: Tentukan Target Hidupmu

Hari ini saya bersyukur karena masih memiliki mimpi dan keinginan. Bulan ini (Juli 2018) saya mempunyai target keinginan menyelesaikan beberapa buku untuk lomba dan ada juga buku untuk penerbit. Bulan ini saya juga ingin memberikan waktu penuh untuk pembelajaran anak saya di rumah.

Hidup dengan target, sama halnya dengan hidup punya tujuan. Hidup tanpa tujuan sama saja dengan mati. Oleh karenanya, saya bersyukur masih mempunyai tujuan hidup untuk mewujudkan keinginan saya.

Bagi sahabat yang tidak mempunyai tujuan melakukan apa-apa bulan ini, segeralah tentukan supaya waktu tidak terbuang percuma. Ini bukan soal pekerjaan kantor, atau rutinitas. Kita bisa saja bekerja dan melakukan rutinitas setiap hari, tetapi tidak mempunyai tujuan pribadi, sama saja dengan kekosongan. Oleh karena itu, tentukan arah hidup pribadimu sekarang, targetmu, keinginanmu, sebelum waktu menggerusmu lebih jauh.

Target saya bulan ini, sebagai seorang ibu, bulan ini hingga 1 tahun ke depan fokus pada pembelajaran di rumah untuk anak saya. Sebagai seorang penulis, bulan ini target saya menyelesaikan 4 buku hingga berbentuk dummy siap cetak.

Thursday, 28 June 2018

Catatan Paskalina: Waktu yang Tepat untuk Menulis

Waktu yang Tepat untuk Menulis
Di usianya yang menginjak 3,5 tahun, terus terang saya semakin kehilangan waktu untuk menulis. Kenan, anak saya, selalu meminta perhatian saya. Saya tidak bisa menolak permintaannya. Walau kadang-kadang saya terpaksa harus marah dan memintanya untuk mengerti jika saya benar-benar perlu waktu untuk menulis (bekerja).

Saya sadar betul jika marah padanya dan memintanya mengerti adalah KEBODOHAN  saya. Di usia emasnya, Kenan membutuhkan saya selalu dekat dengan, selalu menemaninya setiap saat, pokoknya selalu ada untuknya.

Lalu kapan saya bisa menulis? Kapan saja ketika dia bermain bersama neneknya, ketika dia bersama ayahnya, dan ketika dia tertidur, itulah saat yang tepat untuk menulis. Saat-saat seperti itu kadang sulit juga saya dapatkan karena Kenan selalu ingin dengan saya. Makan dengan saya, mandi dengan daya, yang membuat susu saya juga, semuanya dengan saya, karena saya Bundanya wajarlah jika dia selalu menuntut saya ada selalu bersamanya.

Malam hari, tepatnya tengah malam, itu saat yang tepat untuk menulis. Tetapi rasa lelah setelah seharian bersamanya membuat saya tidak bisa bertahan dari kantuk. Akhirnya saya tidak bisa menulis di tengah malam. Hanya sesekali akhirnya saya bertahan, itu pun karena deadline mengejar.

Saya ingin menulis, tetapi saya tak bisa membiarkannya sendirian. Saya harus kembali pada niat saya, saya berhenti menjadi karyawan demi dia, saya tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun darinya. Kenan adalah hidup saya, Kenan adalah napas saya.

Bulan Juli 2018 ini saya punya target menyelesaikan 4 buku pengayaan. Bulan Agustus 2018 targetnya 3 buku bergambar (PAUD). Masih ada juga naskah buku aktivitas yang belum rampung, kurang 40 halaman sekitar 5 tema. Setiap hari setiap saat, Kenan selalu bersama saya. Lalu, lalu, kapan saya menyelesaikan tulisan saya???

Menulis tetap saya kerjakan dan lakukan, setiap saat setiap waktu, kapan pun itu. Yang penting tidak membuat Kenan sendirian, tidak mengacuhkan Kenan, tetap bisa bermain bersama Kenan. Walaupun hanya sekata dua kata, saya akan tetap menulis di catatan gawai ataupun catatan tulisan tangan.

JADI, WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENULIS ADALAH KAPAN PUN DI SAAT YANG TEPAT.
- Paskalina Askalin -

Friday, 15 June 2018

Proses Penulisan Buku Aktivitas Hingga Terbit

Proses Penulisan Buku Aktivitas Hingga Terbit

1. Penawaran Ide pada Editor Penerbit
Saya membuat beberapa ide buku sekaligus penjelasan singkat bukunya. Kemudian dikirim ke editor untuk meminta pencerahan alias persetujuan, kira-kira dari beberapa ide buku yang diajukan adakah yang diminati penerbit.
Jika editor sudah memberikan jawaban, proses menulis dimulai.

2. Mengirim Naskah pada Editor Penerbit
Editor sudah meng-ACC ide naskah, apakah naskah pasti diterima? Belum tentu. Adakalanya penulis harus merevisi atau menambah dan adakalanya langsung di-ACC.

3. Mencari Ilustrator dan Proses Menggambar
Diandaikan saja naskah penulis sudah di-ACC Editor. Langkah selanjutnya adalah mencari ilustrator. Saya bisa mencari ilustrator, bisa pula penulis menyerahkan pada Editor.

Sistem pembayaran honor ilustrator pun beragam, ada yang menggunakan sistem royalti dan dibayar putus. Kalau pakai sistem royalti, berarti keseluruhan royalti buku dibagi dua dengan penulis. Penulis bisa juga langsung membeli gambar dari ilustrator, lalu royalti penulis tidak dibagi dua. Dalam proses pencarian ilustrator ini yang utama adalah Editor Penerbit menyetujui karakter gambar yang dibuat ilustrator. Untuk masalah honor, fleksibel bisa tergantung negosiasi dengan ilustrator.

4. Menyerahkan Naskah dan Gambar pada Editor Penerbit
Setelah ilustrator menyelesaikan gambar, penulis menyerahkan naskah sekaligus gambar pada Editor. Dalam proses ini, jika bisa penulis dapat melayout naskah dan gambar, jika tidak bisa, akan dilakukan oleh penerbit.

5. Pengecekan Dummy atau Naskah PDF Siap Cetak
Proses ini mungkin memakan waktu lama, tergantung banyaknya pekerjaan Editor. Penulis harus sabar untuk menunggu proses bukunya naik cetak. Sebelum buku naik cetak, Editor akan mengirimkan Surat Perjanjian Penerbitan untuk ditandatangani dan Dummy atay PDF naskah untuk cek akhir sebelum naik cetak.

6. Buku Sudah Terbit
Setelah proses yang panjang, hati penulis pasti akan senang jika menerima kabar bukunya terbit. Lama waktu mulai dari naskah di-ACC hingga naskah menjadi buku dan terbit sekitar 3-6 bulan. Bisa lebih cepat dan bisa lebih lama, tergantung kerumitan bukunya.
Uraian di atas adalah proses penulisan buku aktivitas hingga terbitnya buku sesuai dengan pengalaman saya. Semoga tulisan yang saya bagikan ini berguna untuk pembaca sekalian. Jika ada yang ditanyakan bisa menghubungi saya di email paskalinaaskalin@gmail.com. Terima kasih

Friday, 8 June 2018

Waktu dan Deadline Menulis

Waktu dan deadline adalah pemicu penulis untuk mempercepat proses menulis. Manusiawi sebenarnya ketika waktu masih panjang proses menulis menjadi kendor, santai, dengan argumen "Ah masih lama, santai saja."

Saat waktu mulai mendekati deadline, barulah proses menulis dipercepat, pontang-panting cari sumber pustaka, juga lembur setiap malam. Saya tidak perlu mencari contoh siapa penulis yang demikian, karena sayalah orangnya (hihihi). Waktu deadline yang masih lama membuat saya lambat menulis, ketika waktu deadline mendekat proses menulis dipercepat.

Saya sadar betul jika ingin terus menjadi penulis, harus mempunyai bisa konsisten menulis tanpa terburu-buru oleh deadline. Baik deadline masih lama maupun  sebentar lagi, semangat menulis harus tetap sama. Sebagai penulis pun masih harus terus belajar untuk konsisten dalam waktu menulis.

Berkaitan dengan waktu dan deadline yang harus dimiliki seorang penulis jika ingin tulisan selesai tepat waktu adalah MEMBUAT OUTLINE sebelum menulis. Keberadaan outline ini bisa mengukur kemampuan dalam menulis. Outline ini tidak sekadar poin-poin tulisan tetapi juga target selesai. Misalnya, bab 1 selesai 2 hari (tanggal ....), bab 3 selesai 4 hari, dan seterusnya.

Setelah mempunyai outline, yang perlu penulis lakukan selanjutnya adalah menulis sesuai rencana yang ada pada outline. Penulis profesional harus bisa menulis secara konsisten, bukan menulis berdasarkan mood

Saturday, 2 June 2018

Menulis yang Paling Gampang

Menulis yang paling gampang adalah menulis tentang diri sendiri.
-Paskalina Askalin-



Diri sendiri adalah sumber ide yang paling gampang untuk ditulis. Dengan menjadikan diri sendiri sebagai objek, bukan berarti penulis membeberkan seluruh hidupnya dalam tulisan.

Ada banyak bagian dalam diri kita yang bisa digali menjadi sebuah tulisan. Dari beberapa buku yang pernah saya tulis, beberapa di antaranya adalah bersumber dari diri saya sendiri.

Buku Asyiknya Menulis Resensi salah satunya. Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman menulis resensi yang sering saya lakukan dulu. Menulis sebuah tema yang sering dilakukan dan disukai itu menjadi sangat mudah. Proses menulis terlaksana dengan lancar dan pengumpulan materi pun tidak sulit dilakukan. Buku ini terbit tahun 2010.

Buku Seri Anak Rajin: Yuk Bersih-bersih Bersama di Sekolah, diterbitkan oleh Penerbit Andi tahun 2012, juga merupakan hasil dari pengalaman sendiri. Pengalaman masa kecil ketika duduk di bangku SD menjadi ide utama buku ini.

Masih banyak lagi buku yang saya tulis berdasarkan diri sendiri. Bagi saya lebih mudah jika menulis didasarkan pada apa yang kita lihat, kita alami, dan dekat dengan diri kita sendiri. Hal berbeda ketika kita menulis sesuatu yang bersifat imajinatif, kita memang tidak perlu mengalaminya terlebih dahulu.
Setiap penulis punya gaya, setiap penulis punya cara mencari ide tulisan. Jadi, pengalaman saya mungkin berbeda dengan penulis lain.

Saya memang banyak menulis buku berdasarkan pengalaman sendiri, tetapi banyak juga buku yang saya tulis berdasarkan pesanan.

Bagi Anda yang kesulitan memulai menulis, tulislah tentang dirimu sendiri. Bentuk tulisan bisa berupa panduan hidup sehat, novel, motivasi, dan sebagainya. Media tulisannya juga tidak harus buku. Website atau blog bisa menjadi media bagi kita belajar menulis.

Friday, 1 June 2018

Membuat Outline Sebelum Menulis

Outline Oh Outline

Ketika sedang bersih-bersih fail di laptop saya menemukan outline naskah buku yang saya buat 10 bulan yang lalu. Menemukan outline itu bagi saya serasa menemukan harta karun. Saat saya baca ulang, wah bagus juga outline yang saya buat ini dan layak untuk saya teruskan.

Dari beberapa sharing penulisan yang saya ikuti dari penulis-penulis senior, hal penting dalam proses penulisan adalah membuat outline. Outline akan mengarah saya untuk menulis secara runtut.

Dalam proses penulisan naskah, setelah saya mendapatkan tema yang akan ditulis saya jabarkan dalam outline. Bagi saya outline sama dengan daftar isi buku yang akan ditulis.

Saya ingat dulu dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada materi kerangka karangan. Nah, outline ini juga sama dengan kerangka karangan itu.

Dengan adanya outline ini saya bisa terbantu dalam proses menulis. Beberapa waktu lalu saya menulis naskah buku aktivitas anak dengan target halaman 90 halaman. Outline yang saya tulis hanya selembar kertas berisi kisi-kisi materi untuk 90 halaman itu. Outline saya buat dengan tulisan tangan yang mungkin hanya saya pahami sendiri.

Tidak ada aturan paten bagaimana membuat outline yang baik. Karena menurut saya setiap penulis mempunyai gaya menulis masing-masing dan pasti mempunyai cara sendiri untuk membuat outline.
Dua hari ini saya membuat outline buku berjudul (rencana) 100 Aktivitas Anak Melejitkan Kecerdasan. Saya merinci 100 aktivitas dengan membaginya menjadi beberapa tema besar. Buku ini berisi catatan aktivitas saya bersama anak saya. Mungkin nantinya saya akan dapatkan lebih dari 100 aktivitas. Hal itu tidak menjadi masalah. Adanya outline bukan berarti tidak boleh menambah materi misalnya rencana 100 aktivitas, jika akhirnya saya mendapatkan 150 aktivitas, saya akan menulis 150 aktivitas.



TIP MENULIS PASKALINA ASKALIN
1. Pilih tema.
2. Jabarkan dalam outline.
3. Kumpulkan bahan (buku, pengalaman, wawancara, dll).
4. Mulailah menulis.
5. Mengedit sendiri hasil tulisan.
6. Meminta orang lain untuk membaca hasil tulisan.
7. Kirim ke penerbit.

Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...