Tuesday, 9 January 2018

Kenapa Saya Menulis Buku ini?

Alasan pertama saya menulis buku ini adalah karena editor penerbit menyarankan membuat buku ini, jadi saya mencoba membuat proposal naskahnya, lalu di ACC, dan saya tulis. Sesederhana itulah alasannya.
Namun jika dirunut lebih ke dalam buku ini punya sesuatu yang lain bagi saya, penulisnya.

Buku ini kerja sama pertama saya dengan penerbit Elex Media Komputindo. Pertemuan saya dengan Editor Penerbit Elex tidak ujug-ujug. Bulan April 2017 saya mengikuti acara "Ngopi Seru" yang diselenggarakan Komunitas Penulis Bacaan Anak bersama Editor Elex Media. Acara berlangsung di Gedung Kompas Gramedia, Bandung. 

Sebelum acara berlangsung, saya dan penulis lainnya sudah mengajukan proposal naskah. Bagi proposal naskah yang sudah diterima bisa langsung memproses naskahnya dan bekerja sama dengan ilustrator. Nah, proposal naskah saya tidak diterima, jadi Editor memberikan usulan tema lain untuk saya tulis. Salah satu tema yang diajukan adalah buku aktivitas persiapan masuk SD.

Acara Ngopi Seru di Bandung

Ada beberapa tahap yang saya lalui hingga buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit. Berikut ini tahap-tahap proses pembuatan buku ini mulai dari proses menulis hingga terbit.

1. Membuat sampel naskah untuk diajukan ke Editor Penerbit Elex Media.
2. Setelah mendapat persetujuan dari Editor, saya mulai menulis naskah hingga selesai.
3. Keseluruhan naskah yang sudah selesai, saya kirimkan ke Editor.
4. Editor sudah menyetujui naskah, selanjutnya mencari ilustrator.
5. Meminta sampel gambar dari beberapa ilustrator.
6. Editor menyetujui salah satu sampel gambar, selanjutnya editor berkomunikasi langsung dengan ilustrator.
7. Proses pembuatan gambar membutuhkan waktu cukup lama. Setelah gambar selesai, saya memeriksa kelengkapan gambar dan kesesuaian gambar dengan naskah.
8. Naskah dan gambar diserahkan pada Editor untuk diedit, dilayout, hingga akhirnya menjadi dummy.
9. Editor mengirimkan file dummy untuk saya periksa. Kemudian masukan dan catatan koreksi saya serahkan ke Editor.
10. Proses selesai, selanjutnya menunggu proses terbit. Puji Tuhan, buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit 30 Oktober 2017, sehari menjelang ulang tahun saya.

Harapan saya di tahun 2018 ini buku saya yang lain bisa terbit lagi bersama Penerbit Elex Media Komputindo

Monday, 8 January 2018

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

Pengalaman saya sebagai seorang ibu….
Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.

Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.

Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.

Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya membantu proses belajar anak untuk menjadi bisa.

Sering sekali saya melihat, orangtua atau pengasuh anak yang membawakan tas anak ketika pergi dan pulang sekolah. Menurut saya hal ini memutus proses kemandirian anak. Anak menjadi manja, tidak mau dan tidak peduli pada tasnya sendiri. Lama kelamaan hal ini akan terbawa terus hingga remaja.

Berikut ini beberapa kebiasaan orangtua atau orang dewasa atau pengasuh anak, yang membuat anak tidak mandiri:
- Menyuapi makan
- Memakaikan sandal/sepatu
- Membawakan tas saat pulang dan pergi sekolah
- Mengambilkan barang
- Melarang anak membantu
- Membereskan mainan anak

Enam hal di atas sering dilakukan orangtua pada anaknya atau orangtua menyuruh pengasuh anak melakukan hal itu demi anaknya. Saya sebagai orangtua kadang juga terlena untuk memudahkan segala hal demi anak. Tetapi yang saya lakukan justru membuat anak manja, tidak mandiri.
Saya ingin menanamkan kemandirian sejak dini pada anak saya. Saya memulainya dengan makan sendiri tanpa disuapi. Saya memintanya mengambil barang yang diinginkan sendiri. Saya memintanya membantu membereskan mainannya. Saya melibatkan anak saya dalam berbagai aktivitas yang saya lakukan. Hasilnya… kini anak saya bisa makan sendiri, bisa memakai sandal sendiri tanpa pernah terbalik kanan di kiri atau kiri di kanan, anak saya bisa mengambil minum sendiri, dan masih banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan sendiri olehnya.
Untuk sampai pada kemandiriannya, saat ini sebagai seorang Ibu saya harus sabar menghadapi kerepotan atau berantakan karena ulahnya. Saya nikmati itu dengan bahagia.

Tulisan dari blog sebelah, www.paskalina.wordpress.com

Sunday, 7 January 2018

10 Kebaikan yang Bisa Kita Lakukan pada Orang Lain Setiap Hari

Berbuat kebaikan bisa kita lakukan dengan mudah, tanpa harus bersusah payah. Yang menjadikan kita sulit berbuat kebaikan adalah gengsi kita. Gengsi bisa membuat kita takut direndahkan. Padahal dengan kita merendahkan diri, tidak akan menurunkan derajat kita di hadapan Tuhan.
10 kebaikan yang bisa kita lakukan pada orang lain setiap hari.

1. Tersenyum

Untuk memberikan senyum, kita tak perlu mengeluarkan tenaga, apalagi uang. Jadi, berikan senyummu sebanyak-banyaknya pada orang-orang di sekitarmu.

2. Memaafkan

Memaafkan itu akan melegakan hati kita, sekaligus membuat orang yang kita maafkan senang. Harga diri kita tidak akan jadi rendah, hanya karena memberi maaf pada orang lain.

3. Membantu

Orang lain akan menjadi senang ketika menerima bantuan. Oleh karenanya kita telah melakukan kebaikan untuk orang lain. Walaupun kadang kita menemukan orang yang gengsi atau malu menerima bantuan dari kita, tak perlu kita risaukan. Yang penting, kita secara tulus mau membantu orang lain.

4. Menolong

Banyak peristiwa yang membuat seseorang tertolong. Walau kadang pertolongan yang kita berikan dianggap sepele, dan tidak kita anggap sebagai perlakuan baik untuk orang lain. Pertolongan yang kita lakukan bisa menyelamatkan seseorang dari masalah. Misalnya, menolong seorang Nenek yang kesulitan menyeberang, menolong seorang anak mengambil kucing di pohon, dan sebagainya.

5. Menyapa

Ketika berada di tempat baru, tidak kenal satu pun orang yang ada di situ, saat ada orang baru menyapa kita rasanya senang sekali. Seperti merasa ada teman di tempat asing. Kita bisa lakukan kebaikan dengan menyapa orang lain.

6. Memberi

Memberi waktu kita sebentar untuk mendengarkan curhatan teman atau sahabat adalah sebuah kebaikan. Memberi keleluasaan teman bercerita, menjadi pendengar yang baik, itu menyenangkan bagi orang lain. Jadi, jangan segan-segan memberikan waktumu untuk orang-orang di sekitarmu.

7. Merelakan

Merelakan sesuatu untuk orang lain (saudara atau teman), itu merupakan kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain. Misalnya merelakan baju dipakai oleh adik, merelakan bagian terbesar makanan untuk kakak, dan sebagainya.

8. Mengalah

Mengalah bukan berarti kalah. Ketika kamu mengalah pada adikmu, itu sebuah kebaikan. Ketika kamu mengalah di jalan raya dan membiarkan orang lain lewat lebih dahulu, itu juga sebuah kebaikan.

9. Berdonasi

Berdonasi untuk mereka yang membutuhkan adalah bentuk kebaikan kita untuk orang lain. Berdonasi atau memberikan sumbangan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. 

10. Meminjamkan

Meminjamkan barang bisa menjadi kebaikan yang bisa kita lakukan. Di suatu tempat, di mall, kita bisa meminjamkan bolpoin pada orang lain yang membutuhkan.

Kebaikan yang mana yang sudah kamu lakukan hari ini?

Berapa kebaikan yang kamu lakukan hari ini?

Tulisan lama dari blog www.paskalina.wordprees.com

Friday, 5 January 2018

Cerita Berima untuk Anak

Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan (KBBI Luring).
Ada banyak buku anak yang memanfaatkan rima akhir untuk membuat cerita anak. Anak-anak memang lebih mudah mencerna kata berima.

Anak saya, Kenan 3 tahun, sering menyahut ketika mendengar suatu kata dan menghubungkannya dengan kata lain yang mempunyai bunyi akhir sama.
Misalnya, saya mengatakan pada Kenan, Kenan duduknya yang sopan. Jawab Kenan, iya, kalau yang di Bojonegoro itu Om Topan. Kenan menghubungkan kata sopan dengan topan.

Kata lainnya yang menarik bagi Kenan adalah kutipan kalimat dalam buku Si Kumbi.

Bukan kami tak ingin berbagi
Perbuatanmu itu tidak terpuji

Kenan jadi tahu kata TIDAK TERPUJI. Kenan juga paham artinya jika mencuri itu perbuatan tidak terpuji. Kata kumbi, terpuji, berbagi, mencuri, dan sebagainya diakhiri bunyi "i" yang mudah dipahami oleh anak.

Semalam, tiba-tiba saya ingin menulis cerita mini berima. Ini dia hasilnya, tiga cerita mini berima. Semoga bisa dimanfaatkan oleh pembaca sekalian.

Balonku

Balonku ada lima
Dibelikan oleh bunda
Aduh hilang tiga
Jadinya sisa dua

Balonku warna biru
Satunya berwarna ungu
Balonku kejepit pintu
Balonku tersisa satu


Topi

Aku punya topi
Hadiah dari bibi
Topiku bagus sekali
Topiku terus dipuji

Topiku berwarna biru
Mana topiku
Aku lupa menyimpan topiku
Ah topiku ada di balik pintu


Membaca

Aku suka membaca
Membaca buku cerita
Membaca itu berguna
Menambah pintar kosakata

Ini buku hadiah dari Bunda
Karena aku rajin membaca
Besok bunda akan ke kota
Aku pesan buku lima



Ditulis oleh Paskalina Askalin

Wednesday, 3 January 2018

Buku Sahabat: Peluncuran dan Bedah Buku Embara Embun Mimpi

tepian sawah
mewah kau duduk makan
mengusir padi

bangau tunggui
petani bajak sawah
mencari makan

(Dua haiku dalam buku Embara Embun Mimpi)

Saya sungguh turut berbahagia untuk dua sahabat saya, Ira Diana dan Dwi Guna, untuk peluncuran buku terbaru mereka berjudul Embara Embun Mimpi. Buku ini ada sebuah buku haiku yang unik karena semua ilustrasinya adalah lukisan. Dimana kebanyakan buku haiku menggunakan ilustrasi foto.

Ira dan Guna pertama kali bertemu sejak 2013 ketika mereka menjadi jawara dalam sayembara buku yang diadakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Ira menulis buku naskah drama dan Guna menulis buku biografi. Sementara, saya mengenal dekat mereka ketika buku kami menjadi buku terpilih dalam Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Gerakan Literasi Nasional 2017.

Ira dan Guna sudah malang-melintang cukup lama di dunia penulisan, buku ini entah buku ke berapa buat mereka. Nah, pertanyaan ini mungkin nanti bisa ditanyakan pada mereka ketika acara PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU EMBARA EMBUN MIMPI. Silakan hadir dalam acara ini karena didukung pula dengan acara musikalisasi puisi serta pameran lukisan. Acara dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20 Januari 2018, pukul 11.00 wib.


Untuk sedikit memancing rasa ingin tahu kita tentang buku ini, saya berikan beberapa testimoni untuk buku Embara Embun Mimpi.

"Jujur, ini buku yang ingin saya tulis juga .... Antalogi haiku dipadu padan dengan ilustrasi yang disebut haiga. Dwi Guna dan Ira berhasil menyajikan fenomena alam Nusantara secara apik dan sederhana dalam bingkai haiga. Buku yang baik untuk berbahagia dengan puisi tradisional Jepang ini." -- Bambang Trim, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Direktur Institut Penulis Indonesia.

Sebagai penulis yang tumbuh dalam tradisi sastra Melayu-Nusantara, dulu saya bersikap skeptis terhadap haiku, puisi khas Jepang yang, menurut saya, mengandung 'split' estetika. Ini berbeda dengan pantun dan syair, misalnya, dimana kata, irama (bunyi), dan makna begitu solid. Belakangan saya tahu haiku berusaha menyatukan yang terpecah itu. Haiku juga merefleksikan kosmologi orang Jepang; sebagaimana pantun/syair merefleksikan kosmologi bangsa Melayu. Maka tidak mudah bagi penyair Indonesia untuk menulis haiku. Namun Guna dan Ira menunjukkan sebaliknya. Mereka mampu mengatasi kedua problem di atas; estetikanya berdenyar menyentuh intuisi, dan kosmologinya berpijak di lingkungan sendiri. -- Ahmad Gaus, Dosen sastra Swiss German University (SGU), penulis buku puisi Senja di Jakarta (2017) dan Kutunggu Kamu di Cisadane (2013).

日本人として、この南半球でインドネシアの方が俳句を詠み俳句に親しまれるのを誇りに思います。
定型の短い文章の中で、一瞬にして、読者を詠み手の目の前の世界へと誘ってくれる俳句。
著者達が紡ぎ出す言葉の「わび・さび」に感銘を受けました。
Sebagai orang Jepang, saya bangga penulis Indonesia menikmati menulis Haiku di belahan bumi selatan ini. Dalam kondisi tertentu, dalam sekejap mata, saya diundang ke dunia penyair Haiku. Saya terkesan dengan perasaan Wabi-Sabi dalam kata-kata yang berhasil mereka jalin.---Megumi Nakao 
Bagi saya, membaca testimoni di atas membuat penasaran dan ingin segera membaca dan memiliki buku ini. Ira pernah menawarkan pada saya untuk memperlihatkan file isi buku ini. Ah, tetapi saya menahan rasa penasaran saya hingga tanggal 20 Januari nanti ketika acara peluncuran buku ini.

Bagi yang ingin membeli buku ini dan belum bisa hadir di acara peluncuran nanti. Jangan khawatir, ada harga spesial untuk buku Embara Embun Mimpi menjelang peluncurannya. Silakan cek dalam flyer di bawah ini.  TAPI SAYA SARANKAN UNTUK HADIR DI ACARA PELUNCURAN, kenapa? karena ada suvenir keren untuk 20 undangan yang hadir. Yuk, buruan daftar dan buruan pesan, sebelum kehabisan.



Tuesday, 2 January 2018

Belajar di Rumah: Mengenal Angka (1)


Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari.
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum.

Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah.

Saya khawatir Kenan bosan bersekolah jika harus masuk sekolah diusia 3 tahun. Saya juga tidak ingin mengambil waktu bermainnya untuk dihabiskan di sekolah.

Saya selalu di rumah, jadi saya bisa menemani Kenan setiap saat. Saya bisa menjadi ibu sekaligus guru untuk Kenan. Apa yang diajarkan di sekolah bisa saya ajarkan di rumah. Saya juga tidak perlu memaksa Kenan untuk belajar. Belajar bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Salah satu yang sudah saya kenalkan pada Kenan adalah ANGKA. Ada banyak aktivitas yang saya lakukan untuk mengenalkan angka pada Kenan. Berikut ini di antaranya:

1. Melalui Lagu
Sejak kecil kita sudah mengenal lagu Satu Satu.

Satu Satu
Satu satu aku sayang ibu
Dua dua juga sayang ayah
Tiga tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya.

Lagu ini secara tidak langsung mengenalkan anak pada angka. Sambil menyanyikan lagu saya memperagakan tangan saya, ☝✌ dan seterusnya. Lagu ini bisa dinyanyikan sebelum tidur atau kapan pun ketika ada kesempatan.

Lagu Satu Satu ini juga bisa dimodifikasi sendiri sesuai kreativitas kita. Saya memodifikasi dengan menggunakan bahasa Inggris.

Number one, I love my mother
Number two, I love my father
Number three, I love my grandma
One two three, I love my family

Lagu Satu Satu ini mengenalkan anak pada angka 1, 2, dan 3. Dalam pengenalan ini kita tidak perlu memaksa anak untuk hafal angka. Kita hanya perlu mengenalkan pada anak, bukan mengharuskan hafal angka. Anak adalah peniru yang hebat. Mendengar dan melihat angka secara berulang-ulang akan melekat pada ingatan anak. 


2. Menghitung Mainan
Anak-anak mempunyai banyak mainan. Kita bisa mengajak anak menghitung mainannya. Cobalah ajak anak menghitung 1-10. Anak pada awalnya mungkin tidak peduli, tetapi semakin sering kita mengulang menghitung pada akhirnya anak akan mengingat dan mencoba menghitung.

Fakta:
Kenan belum genap berusia 3 tahun. Saat ini setiap kali melihat jejeran benda dia akan menghitung benda itu, 1-10.

Anak adalah peniru ulung, sehingga ketika sebuah perkataan diulang-ulang akan mudah diingat oleh anak. Oleh karena itu, orangtua harus selalu mengulang menyebutkan angka 1-5, kemudian 1-10, dan seterusnya.



Bersambung ke Belajar di Rumah: Mengenal Angka (2)

Ditulis oleh Paskalina Askalin

Monday, 1 January 2018

Bermain di Luar Rumah

Saya tertarik dengan ajakan sebuah iklan sabun, "Ayo bermain di luar."
Ajakan ini sangat positif dan patut diikuti oleh seluruh keluarga Indonesia.
Di era gawai ini, anak-anak cenderung menyukai berlama-lama duduk dengan gawai-nya masing-masing. Anak-anak tidak banyak bergerak sebagaimana mestinya.

Orangtua memang tidak bisa melepaskan anak dari keberadaan gawai. Walaupun orangtua bersikeras menjauhkan anak dari gawai, anak tetap akan bersinggungan dengan gawai melalui lingkungan pergaulannya.

Ada hubungan erat antara bermain di luar dan gawai. Bermain di luar bisa membuat anak melupakan dari gawai.  Anak-anak menyukai aktivitas bergerak yang dilakukan di luar rumah. Namun, orangtua kadang malas menemani anak bermain di luar.

Anak saya, Kenan (3 tahun), sudah tertarik dengan gawai. Bagaimana tidak tertarik, kami orang dewasa, ayah, bunda, dan neneknya sering lupa pada situasi sehingga fokus pada gawainya masing-masing. Hal ini membuat Kenan pun ikut-ikutan memegang gawai.
Hal seperti di atas, saya yakin dialami oleh semua orangtua. Ada orangtua yang santai saja menanggapinya dan memberi kebebasan pada anak memakai gawai. Ada pula orangtua yang ekstra ketat melarang anaknya menggunakan gawai, kecuali hari libur.
Saya termasuk orangtua yang berada pada posisi tengah, saya tidak melarang anak saya bersentuhan dengan gawai, tetapi saya juga tidak memberi kebebasan memegang gawai. Jadi sebenarnya tergantung orangtua, bukan? Ketika anak sudah suka pada satu aktivitas di gawai, bermain game atau menonton kartun edukasi Youtube, akan sulit memintanya berhenti. Nah, jadi harus ada aktivitas pengganti untuk anak bisa meninggalkan gawainya.

Bermain di luar rumah bisa menjadi pilihan untuk menjauhkan anak dari kebiasaan bermain gawai. Orangtua dapat mengajak anak melakukan aktivitas permainan di luar rumah, bisa di teras, halaman, atau di taman kompleks. Bermain di luar rumah membuat anak bergerak bebas. Nah, kini tugas orangtua  menciptakan permainan yang menarik untuk dimainkan bersama anak.

Warning: Ingat ya, dimainkan bersama, bukan menyuruh anak bermain sendiri, sementara orangtua duduk diam memperhatikan.

Bermain di luar rumah bisa dilakukan kapan saja, pagi, siang, sore, maupun malam hari. Orangtua bisa menyesuaikan waktu sesuai kondisi. Bagi orangtua yang bekerja, bisa mengajak anak bermain di luar rumah ketika liburan tiba. Atau orangtua bisa memberitahukan pada orang yang mengasuh atau menemani anak untuk mengajak anak bermain di luar rumah.
Bagi orangtua (ayah/ibu) yang bekerja di rumah, bermain di luar rumah bisa selalu dilakukan kapan saja. Bermain di luar rumah tidak perlu dilakukan setiap hari, yang utama mengimbangi kegiatan sehari-hari anak.

Bermain di luar rumah tidak melulu bermain. Orangtua bisa menambahkan aktivitas edukasi yang bermanfaat seperti menghijaukan lingkungan, kerja bakti membersihkan halaman, atau merawat tanaman.

Berikut ini ide aktivitas/permainan untuk bermain di luar rumah bersama anak.
1. Bermain bola atau mainan lain
2. Bermain pasir
3. Menyiram tanaman
4. Menanam pohon
5. Melukis botol atau kaleng bekas untuk pot atau benda fungsional lainnya
6. Bermain drum dari kaleng bekas

Enam ide di atas sudah pernah saya lakukan. Bukan bermaksud untuk bermain di luar, tetapi ternyata bermain di luar itu bermanfaat untuk kecerdasan serta tumbuh kembang anak.

Ditulis oleh Paskalina Askalin


Cerita Kenan: Tidak Jadi Buat Konten Tentang Bus Pariwisata Red White Star

Saat hari libur sekolah atau akhir pekan aku ingin membuat konten untuk channelku KENAN STORIES .  Yang belum SUBSCRIBE,  ayo kunjungi chann...